15 Tahun Kasus Munir tak Terungkap, Aktivis HAM: Kami Menolak Lupa

Diskusi tentang Munir di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat (13/9/2019). (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Pembunuhan terhadap aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Munir Said Thalib telah memasuki tahun ke-15. Namun, hingga kini Negara belum mampu menuntaskan kasus tersebut.

Istri almarhum Munir, Suciwati menduga, sulitnya penuntasan kasus pembunuhan terhadap suaminya pada 7 September 2004 itu karena orang-orang yang disinyalir terlibat sebagai aktornya, kini dekat dengan lingkaran penguasa. Selain itu, pembunuhan Munir sarat dengan kepentingan politik pada masa itu.

“Mengapa Munir dibunuh pada saat Pilpres putaran kedua? Karena hanya dua (kandidat) yang maju. Waktu itu (2004) SBY dan Megawati,” ungkap Suciwati dalam Diskusi tentang Munir di Kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat (13/9/2019).

Sedangkan aktornya, menurut Suciwati, adalah seorang oknum pejabat Negara sekaligus tim sukses dari salah satu parpol yang tengah berkontestasi.

Namun, Suci mengaku sempat menerima pesan bernada ancaman disertai potongan Kepala dan kaki ayam yang dikirim dari orang misterius ke rumahnya. Seolah-olah ia diminta berpikir bahwa yang membunuh suaminya adalah dari oknum TNI. Terlebih, ketika itu ada banyak demonstrasi tentang penolakan terhadap calon Presiden dari militer, dan Munir dikenal sebagai orang yang sangat kritis terhadap militeristik atau kekerasan Negara terhadap rakyatnya.

“Itu dianggap Munir benci sama tentara. Padahal, Munir itu orang yang sangat kekeh membela tentara. Ada pasal-pasal yang diperjuangkan Munir untuk memperjuangkan kesejahteraan tentara yang di bawah,” jelasnya.

Oleh karenanya, Suciwati berpandangan bahwa publik harus kritis melihat hal tersebut. Mengingat, ada pihak-pihak yang sengaja digunakan untuk menutupi atau bahkan membela keterlibatan orang-orang yang disebut terlibat dalam permufakatan jahat tersebut.

Sementara Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Yati Andriani menegaskan bahwa pihaknya menolak lupa terhadap kasus tersebut, dengan terus memperjuangkan keadilan bagi Munir.

Salah satunya, sebut Yati, dengan mulai membuka serta mempelajari dokumen hasil Tim Pencari Fakta (TPF) Kasus Munir yang selama ini dinyatakan telah hilang oleh pemerintah. Sebab, dari isi dokumen itu muncul sembilan nama yang diduga kuat terlibat dalam pembunuhan berencana terhadap Munir.

“Di dokumen itu juga ada rekomendasi agar dibentuk tim untuk menindaklanjuti temuan dari TPF,” sebutnya.(Rep-02)