Gunakan Dana Keistimewaan, Dinas Kebudayaan DIY Produksi 15 Film

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Pengamat Kebudayaan, Condrokirono mengatakan keontetikan dokumentasi dalam pembuatan film dokumenter tentang sejarah menjadi hal yang paling penting untuk diperhatikan. Hal itu disampaikannya kepada kabarkota.com menanggapi rencana Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY yang akan memproduksi sedikitnya 15 film dokumenter dengan dana keistimewaan di tahun 2014 ini.
“Masyarakat memang lebih enak menikmati film sambil belajar daripada membaca buku-buku sejarah,” kata Condro melalui sambungan telepon, Jumat (8/8).
Hanya saja, sisi histori dan arkeologinya harus lebih ditonjolkan dalam pembuatan film-film dokumenter dan rekonstruksi tentang peristiwa sejarah. Sementara sumber informasi untuk menggali hal tersebut hingga saat ini masih terhitung minim di Yogyakarta.
Baca Juga:  Desa Panggungharjo Bantul Masuk Nominasi 10 Besar Desa Terbaik Se Indonesia
“Dulu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pernah membuat film animasi yang menggambarkan kemegahan Taman Sari,” kenang Condro, yang juga mantan Kepala Dinas Kebudayaan DIY tersebut. Menurutnya, film animasi seperti itu lebih bisa dipertanggungjawabkan hasilnya dibandingkan film dokumenter. 
Sebelumnya, dalam Launching Film “Sebelum Serangan Fadjar” di Disbud, 7 Agustus kemarin, GBPH Yudaningrat selaku Kepala Dinas Kebudayaan DIY menyampaikan, pada tahun 2014 ini pihaknya memiliki tanggungan untuk memproduksi 15 film dengan menggunakan dana keistimewaan.
“Lima belas itu termasuk Hip Hop, karena Hip Hop juga berjasa bagi Keistimewaan DIY,” sebut Gusti Yuda, panggilan akrab Adik Sri Sultan Hamengku Buwono X ini.
Baca Juga:  Asyik di Warnet, Pelaku Penipuan Online Dibekuk Polisi
Namun, selain 15 film tentang kebudayaan tersebut, Disbud DIY juga akan membuat 15 film serial tentang biografi Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Kepala Seksi Perfilman Disbud DIY, Erlina Hidayati pada kesempatan tersebut juga menjelaskan bahwa untuk film yang menggambarkan tentang sejarah Raja keraton Yogyakarta dari generasi ke generasi itu, saat ini sedang dalam proses riset, dan sebagian akan mulai digarap pada bulan Agustus ini. 
Sejumlah media melansir, pada tahun 2014 ini, Dinas Kebudayaan DIY mendapatkan alokasi dana keistimewaan terbesar, yakni sekitar Rp 375,1 Milyar dari total Danais Rp 523 Milyar yang akan dikucurkan dalam tiga termin. Sayangnya, berdasarkan hasil evaluasi tahun 2013 dan termin I pengucuran dana tahun 2014, serapan danais di dinas ini terhitung paling rendah.
Baca Juga:  Pilkada Kota Yogya, Inikah Calon yang akan diusung PPP dan PDIP?
Pada tahun 2013, Disbud DIY hanya mampu menyerap 6,1 persen dari total dana yang dikucurkan ketika itu. sementara pada termin pertama tahun 2014, dari total Rp 131 Milyar yang dikucurkan, baru terserap Rp 17 Milyar. (tri/mon)