Beredar Buku Berbau Radikalisme, Ini Kata Menteri Anies Baswedan

Seorang guru menunjukkan buku yang mengandung materi radikalisme. (Sumber: suara.com)
JAKARTA (kabarkota.com) – Akhir-akhir ini, dunia pendidikan sedang menjadi perbincangan hangat dengan adanya buku pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi pekerti untuk SMA kelas XI terbitan Pusat Kurikulum, Balitbang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Buku dengan penyusun Mustahadi dan Mustakim itu, dinilai sebagian kalangan mengandung ajaran materi berbau radikalisme. 
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pendidikan Dasar, menengah, dan Kebudayaam, Anies Rasyid Baswedan mengatakan materi buku tersebut lolos karena waktu penulisan terlalu singkat. Menurut Anies, hal itu membuat penulis menjadi tergesa-gesa. 
Baca Juga:  Meneladani Tiga Tokoh HMI di Era Generasi Sekarang
“Belum sempat di-review secara lengkap setelah ditulis,” ujar Menteri Anies saat menghadiri acara peluncuran buku hasil survei Organisation for Economic Co-operation and Development di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (25/3). (Baca juga: Lima Alasan WNI Tertarik Gabung ISIS)
Anies mengatakan, buku yang digarap sejak Januari 2014 itu dicetak secara serentak dan dalam jumlah banyak lantaran waktu sudah mepet. Karena itu, ia melanjutkan, juga sekaligus menghentikan untuk sementara waktu penerapan kurikulum yang dicanangkan menteri pendidikan sebelumnya. (Baca juga: Disambut Seni Tradisional, Menteri Anies Ikut Menyanyi)
Baca Juga:  Wapres: Pendidikan harus Bisa Mendinamisasi Pemerintahan
Atas kejadian itu, pihaknya menjanjikan tidak akan menetapkan batas akhir penulisan buku ajar tersebut. “Harapanya, proses pengerjaan tidak tergesa-gesa dan memiliki hasil yang bagus serta bermanfaat bagi siswa,” ungkapnya. (suara.com)