Satpol PP Sleman Minta Tempat Hiburan Ditutup 7 Hari Awal Ramadan

SLEMAN (Kabarkota.com) – Satuan Polisi Pamong Parja Kabupaten Sleman meminta agar tempat hiburan tutup selama tujuh hari pada saat awal Ramadan. Penutupanya tepatnya pada H-1 Ramadan dan enam hari saat awal Ramadan.
"Itu sesuai aturan pada Perbup no 26 tahun 2013 tentang tentang kegiatan operasional tempat hiburan umum, hotel, rumah makan, dan lainya. Saat Ramadan harus ditutup," kata Kepala Bidang Peraturan  Perundang-undangan Sat Pol PP Kabupaten Sleman Sunarto melalui sambungan telepon pada Kabarkota.com pada Rabu (24/6).
Baca Juga:  Perekrut Jogja Dec wilayah Kulon Progo Dijanjikan Rp 6 Juta per Bulan
Menurut dia, penutupan tersebut juga sebagai upaya menghormati bulan Ramadan. Sehingga diharapkan pelaksaan bulan Ramadan kondusif.
Ia meminta pada pengelola tempat hiburan agar berpenampilan sesuai di bulan Ramadan. Begitupula untuk tempat yang memiliki izin menjual miras seperti hotel dilarang menjual miras.
"Untuk memantau kepatuhan mereka kami akan melakukan razia secara rutin. Sehingga terlihat siapa yang melanggar," terang dia.
Dia mengatakan sanksi atas pelanggaran ini merupakan sanksi administratif.  Sanksi seperti pencubatan izin, pembekuan tempat usaha, penutupan tempat usaha dan penyitaan miras.
Baca Juga:  Sekjen Aliansi Buruh Yogyakarta Merapat ke Kubu Jokowi-JK
Pada Rabu (24/6) ini Sat Pol PP juga melakukan sosialiasai atas aturan tersebut kepada pelaku hiburan. Jumlah mereka yang diundang ada seratusan pengusaha tempat hiburan. Mereka terdiri atas pemilik salon, spa, panti pihat dan pengusaha hiburan lainya.  
Anggota DPRD Kabupaten Sleman Kabupaten Sleman  Huda Tri Yudhayana mengharapkan agar tempat hiburan seperti diskotik ditutup selama sebulan penuh. Sedangkan untuk salon, spa dan panti pijat dibatasi jam operasinya.
"Kami minta hotel dan kafe yang memiliki izin menjual miras jangan menjual dulu selama Ramadan. Sebab saat ini sedang bulan Ramadan," kata dia.
Baca Juga:  Siap-siap Sambut Jogja Air Show 2016
Ia mensinylir suasana Jogja sedang panas karena sedang Pilpres. "Kemarin  ada kerusuhan. Kami kira itu juga karena miras. Kami tak ingin ada kerusuhan hanya karena miras," ungkap dia. (din/rin)