Ingin Berstatus IPR, Penambang Harus Pakai Cara Manual

Ilustrasi (youtube.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Warga yang menambang pasir di sepanjang sungai Progo harus menggunakan cara manual, jika ingin memperoleh Izin Penambangan Rakyat (IPR). Pasalnya, cara penambangan menggunakan mesin sedot seperti yang selama ini dilakukan warga, tidak mendapat rekomendasi dari Balai Besar Wilayah Sungai Opak (BBWSO). Padahal, restu dari BBWSO sangat penting untuk melengkapi dokumen lingkungan yang akan diajukan dalam memperoleh IPR.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Sub Divisi Perencanaan dan Pemeliharaan BBWSO, Dono Aji, dalam audiensi yang dilakukan oleh Kelompok Penambang Progo (KPP) di kantor DPRD DIY, Kamis (3/3/2016).

Baca Juga:  Wacana Pembangunan Mall, Sistem Ekonomi di Bantul Dinilai belum Siap Bersaing

“Menggunakan mesin sedot tidak mendapat rekomendasi karena dapat menyebabkan degradasi air yang sangat cepat. Sama dengan alat berat. Jadi kalau mau IPR, ya harus manual,” ujarnya.

Kepada kabarkota, Aji juga menuturkan, penambangan cara manual masih mungkin dilakukan, dengan alat-alat seperti perahu, cangkul, dan sekop sebagaimana yang dilakukan para penambang pasir tradisional di beberapa tempat.

Menanggapi Aji, koordinator Kelompok Penambang Progo (KPP), Yulianto berdalih, kegiatan tambang mereka menggunakan mesin sedot sama sekali tidak mengancam lingkungan dan menyebabkan degradasi air. Berbeda denga eskafator yang dimiliki perusahaan tambang, yang menggerus bibir sungai sehingga menyebabkan lobang pada tanah.

Baca Juga:  Sempat Memanas, Aksi Mahasiswa Yogya Tolak Kenaikan Harga BBM Bubarkan Diri

“Kalau sudah mendengar mesin sedot, seolah-olah menyeramkan. Padahal dalam mesin sedot itu, ada istilah PK untuk mengukur kecepatan sedot air. Yang bahaya itu PK diatas 30. Kalau masih dibawah itu saya kira tidak masalah. Tapi silakan dirumuskan maksimal ukuran PK-nya yang bisa digunakan untuk menambang,” pintanya.

Selain itu, Yulianto juga menambahkan, saat ini tidak mungkin lagi menambang menggunakan cara-cara manual, karena tingginya permintaan pasir untuk membangun infrastruktur di wilayah DIY.

Baca Juga:  Skandal Panama Papers Terkuak, Berapa Uang orang Indonesia di Luar Negeri?

“Mereka menginginkan ada pembangunan infrastuktur yang massif di Yogya. Itu pasti butuh pasir dalam jumlah yang banyak. Tidak bisa diperoleh dengan cara-cara manual,” anggapnya lagi. (Ed-03)

Kontributor: Januardi