Orangutan Friends Yogya Dukung Hukuman Maksimal bagi Pelaku Perdagangan Beruang Madu Ilegal

Aksi teatrikal Orangutan Friends Kelompok Relawan dan Pendukung Center for Orangutan Protection (COP), di depan kantor Kejari Bantul, Senin (25/7/2016). (Sutriyati/kabarkota.com)

BANTUL (kabarkota.com) – Sejumlah aktifis perlindungan satwa liar yang tergabung dalam Orangutan Friends Kelompok Relawan dan Pendukung Center for Orangutan Protection (COP), Senin (25/7/2016), menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Bantul, DIY.

Koordinator Orangutan Friends Yogyakarta, Destya Suci mengatakan, aksi kali ini sengaja digelar untuk mendukung Kejaksaan dalam menuntut hukuman maksimal bagi pelaku jual-beli beruang madu ilegal dengan terdakwa Hendrik Tri Setiawan yang akan menghadapi tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri Bantul, Selasa (26/7/2016) besok.

Baca Juga:  Relawan Jokowi - Makruf akan Gelar Mancing Gratis, Ini Kata Bawaslu Sleman

Menurutnya, Hendrik yang berprofesi sebagai dokter hewan telah terbukti melanggar kode etik profesi dokter hewan Indonesia atau kode etik profesi veteriner dengan melakukan pembelian satwa liar kategori dilindungi berupa beruang madu untuk melengkapi koleks Taman Margasatwa Mangkang Semarang, Jawa Tengah.

“Pembelian satwa liar dengan cara dan sumber tidak sah menurut Undang-Undang No 5 Tahun 190 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, ancaman hukumannya lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta,” jelas Destya kepada wartawan di sela-sela aksinya.

Kasus bermula ketika 11 Februari 2016 lalu, Hendrik membeli seekor beruang madu seharga Rp 6,5 juta dari Muhammad Zulfan, untuk melengkapi koleksi satwa tempat ia bekerja tersebut. Sebelumnya, pada 20 Juni 2016 lalu, PN Bantul juga telah menjatuhkan vonis 9 bulan penjara terhadap Zulfan.

Baca Juga:  Ini Isu-isu Krusial tentang UU Desa yang Terabaikan

Khalid sardi, Kasi Pidum Kejari Bantul, saat ditemui wartawan menyatakan, pihaknya masih akan melihat fakta-fakta di persidangan. Hanya saja, menurut Khalid, aksi tersebut akan menjadi pertimbangan untuk menentukan tuntutan terhadap terdakwa.

Sementara, Affif Panji Wilogo selaku JPU atas kasus ini menjelaskan bahwa memang terjadi pelanggaran prosedur dalam transaksi jual-beli satwa liar yang dilakukan oleh Hendrik dan Zulfan.

Namun, lanjut Affif, pelaku berdalih membeli beruang madu itu untuk tujuan pengembak-biakan, mengingat hewan tersebut sudah terhitung langka.

Baca Juga:  Tanah Ambles, Kendaraan Berat Dilarang Lewati Jembatan Gorongan Sleman

“Sebenarnya Hendrik sudah berupaya menempuh jalan legal dengan mengurus izin, tapi keburu ditangkap,” tegasnya.

Untuk itu, pihaknya juga akan menjerat terdakwa dengan pasal 40 ayat 2 UU No 9 Tahun 1990, dengan ancaman maksimal lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta, sebagaimana tuntutan massa aksi. (Rep-03/Ed-03)