Anak usia dini mengenal gadget, siapa takut?

Ilustrasi: seorang anak kecil tengah asyik memainkan gadget (dok. istimewa)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Di era teknologi komunikasi dan informasi yang semakin canggih saat ini, menjadi hal yang sulit dihindari untuk menjauhkan anak dari gadget, bahkan untuk anak-anak usia dini. Padahal notabene mereka umumnya belum mampu membedakan informasi atau aplikasi mana yang layak dan mana yang tak sepantasnya untuk dikonsumsi untuk seusia mereka.

Karenanya, saat memperingati Hari Anak Nasional di Nusa Tenggara Timur, 30 Juli 2016 lalu, Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi), menekankan pentingnya melindungi anak-anak dari dampak negatif penggunaan teknologi dan konsumsi informasi. Meski bukan berarti anak-anak sama sekali tidak boleh menggunakan teknologi atau mendapatkan informasi, namun bagaimana penggunaan teknologi dan konsumsi informasi itu bisa berdampak positif dan produktif bagi mereka.

Menanggapi pesan Presiden tersebut, sejumlah orang tua di Yogyakarta memiliki beragam pengalaman dalam mendidik anak-anaknya, yang rata-rata sudah mengenal gadget sebagai salah satu media telekomunikasi dan informasi sejak usai dini.

Koko, seorang warga Tempel Sleman mengaku, telah mengenalkan gadget pada putranya sejak usia 1,5 tahun. “Poin penting dari mengenalkan gadget, anak jadi punya keberanian untuk mencoba barang elektronik seperti komputer, dan HP,” kata Koko kepada kabarkota.com, Senin (1/8/2016).

Baca Juga:  Cegah Terorisme Terulang, Ini Arahan Presiden untuk Intelijen

Menurut Koko, meski anaknya yang kini berusia 5 tahun belum mengenal baca-tulis, namun sudah mampu mendownload game-game dari gadget yang biasa ia pegang sendiri, dalam dua tahun terakhir.

“Mungkin anak kami belum tahu soal baik atau tidak, boleh atau tidak. Tapi dia selalu pamer apa yang didapat dari gadget. Itu pentingnya interaksi antara orang tua dan anak, karena dia selalu bertanya kalau dia tidak mengerti. Nah, itu pentingnya mengenalkan gadget sejak dini, dengan pengawasan. Anak jadi tau sejak dini pula mana yang boleh mana yang tidak,” dalihnya.

Termasuk, kata Koko, ketika anak mendapatkan pengaruh negatif dari temannya untuk membuka video yang sarat dengan pornografi. Bapak satu anak ini mengaku memberikan pemahaman kepada putranya tersebut dengan cara yang sederhana sehingga bisa dimengerti dan mampu membedakan bahwa hal tersebut tak pantas dilakukan.

Baca Juga:  Malioboro untuk Nama Hotel Mesum di Jakarta, Begini Reaksi Warga Yogya

Asep Supena Asral, warga Gamping Sleman, juga menganggap, pengenalan anak pada gadget sejak usia dini menjadi hal yang perlu dilakukan di tengah era digitalisasi seperti sekarang.

“Anak-anak di rumah juga sudah kenal gadget. Bahkan, yang usia 7 tahun sekarang sudah kami beri HP untuk komunikasi dan mencari informasi. Termasuk saya perbolehkan main game. Karena kita tidak bisa menolak perubahan. Hanya yang terpenting adalah funsi kontrol, contoh, komunikasi serta komitmen,” jelas Asep.

Meski begitu, telah membuat kesepakatan dengan istri dan anak-anak, seperti mengijinkan mereka bermain game 15-30 menit per hari. Ia juga menerapkan reward and punisment untuk menanamkan kedisplinan dan ketaatan pada komitmen yang telah dibuat bersama. Asep juga membuat grup melalui jejaring sosial whatsapp dengan keluarga kecilnya untuk memantau putra-putri mereka.

“Kami terapkan reward and punishment. Rewardnya dengan memberi apa yang dia suka, seperti jalan-jalan di mana atau membeli sesuatu di mana. Kalau punishment jangan fisik. Kami dudukan dia di pojok beberapa menit. Setelah itu diberi tahu dimana salahnya, suruh minta maaf dan dipeluk atau anak tidak kami ijinkan untuk nonton tv ataupun main game selama tiga hari,” imbuhnya.

Baca Juga:  Siapa Ipang Wahid, Pria yang Dituduh sebagai Dalang di Balik Tabloid Indonesia Barokah?

Baginya, pola asuh seperti itu cukup efektif untuk menanamkan kedisiplinan dan kejujuran anak-anak.

Sementara warga kota Yogyakarta, Endang berujar, putrinya yang kini telah beranjak remaja seolah tak bisa lepas dari gadget. Namun demikian, Endang menyatakan, untuk memproteksi dari pengaruh buruk gadget, dirinya menempatkan diri sebagai teman baik dan terbuka bagi putrinya sehingga lebih mudah dan efektif dalam melakukan pengawasan dan mengarahkan.

“Selain itu, saya juga membatasi penggunaan kuota internetnya. Kalau misalnya sudah habis tapi belum jatah beli ya tunggu waktu dapat jatah nya. Selain itu, ia juga tidak boleh membeli kuota internet pada malam hari. Supaya waktu tidurnya tidak dipakai untuk internetan,” ungkap Endang (Rep-03/Ed-03)