Hidroponik: Bisnis Menjanjikan yang Minim Perhatian

Ferry Kurniawan (kiri) menunjukkan hasil produksi sayurannya dengan sistem hidroponik, Minggu (20/11/2016). (sutriyati/kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Tingginya kebutuhan pangan, khususnya sayuran DIY hingga kini belum bisa terpenuhi oleh produksi petani lokal. Di sisi lain, luas persawahan kian menyusut seiring maraknya alih fungsi lahan.

Berpijak pada persoalan tersebut, Ferry Kurniawan, warga Dusun Ketingan, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, DIY, merintis pertanian dengan sistem hidroponik, sebagai alternatif agrobisnis modern, pada akhir tahun 2009 lalu.

Tidak mudah memang, pria 35 tahun ini mengaku belajar sistem pertanian yang mengandalkan air tersebut secara otodidak, dari berbagai sumber di internet.

“Selama dua tahun awal, ujicoba saya mengalami gagal total,” kenang Ferry saat ditemui wartawan di kampus Akademi Pertanian Yogyakarta (APTA), Minggu (20/11/2016).

Baca Juga:  30 Pasangan Nikah Massal, Maharnya Pohon dan Burung Dara

Namun, alumnus D3 Jurusan Manajemen Informatika STMIK AMIKOM Yogyakarta 2003 ini tak lantas pantang menyerah. Meski di tengah cibiran sebagian orang di sekitarnya karena usahanya mengembangkan pertanian modern itu dianggap tak lazim.

Menurutnya, mindset para petani konvensional yang umumnya didominasi oleh generasi tua, sangat berbeda dengan pola pikir petani muda. Sebab, umumnya petani konvensional sulit untuk diajak melakukan perubahan. Ferry menduga, hal itu tak lepas dari masih luasnya lahan persawahan di desa-desa yang ada saat ini. Selain anggapan bahwa berbisnis hidroponik membutuhkan modal besar dibandingkan pertanian pada umumnya.

“Pada bulan 1 – 3 itu saya juga “puasa”, dalam arti tidak ada penghasilan sama sekali,” ungkap Ketua Komunitas Griya Hidroponik Yogyakarta ini.

Baca Juga:  1 Juni 2014, Jadwal Kereta Api di Yogyakarta Berubah

Meski begitu, Ferry tetap berkeyakinan bahwa pertanian hidroponik yang ia tekuni merupakan ladang bisnis yang menjanjikan. Mengingat, masih ada sekitar 60 persen kebutuhan sayuran di DIY yang hingga kini belum terpenuhi sehingga harus mendatangkan komoditas pangan ini dari luar daerah.

Hanya saja, tantangannya, lanjut Ferry, pemerintah belum memberikan perhatian terhadap sistem pertanian ini. Hal itu terbukti, belum adanya standarisasi harga untuk produk-produk pangan dari hasil hidroponik yang semestinya memiliki nilai jual yang lebih tinggi karena kualitasnya unggul dibandingkan produk pertanian konvensional.

Dengan lahan yang tak terlalu luas, yakni 8 x 4 meter, Ferry mampu menghasilkan omzet sekitar Rp 1,5 juta per bulan, dari hasil tanam kangkung, sawi, selada, dan pakcoy. Itu pun, Ferry baru mampu memenuhi sekitar 20 persen dari total permintaan para pelanggannya.

Baca Juga:  Blok Masela: Proyek Gas Terbesar Dunia yang akan Digarap Asing

Ferry yang juga aktif sebagai trainer Hidroponik ini mengaku bangga bisa menularkan ilmunya melalui berbagai sosialisasi kepada masyarakat, termasuk para mahasiswa di berbagai wilayah. “Peminat hidroponik itu rata-rata para petani muda yang lebih smart dalam menangkap peluang-peluang bisnis,” anggapnya.

Ke depan, Pria kelahiran Lumajang ini berharap ada gerakan untuk membudidayakan jenis pertanian urban di masyarakat, sebagaimana yang telah diwacanakan oleh pemerintah selama ini. “Bentuknya bisa dengan percontohan sistem pertanian hidroponik sehingga masyarakat bisa meniru,” harap Ferry. (Rep-03/Ed-03)