“Dolanan” Tradisional, Pencegah Perilaku Agresif Anak?

Talkshow tentang Menggiatkan Dolanan Tradisional untuk Kesehatan Anak”, di UGM, Jumat (27/7/2018). (sutriyati/kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Di era serba digital seperti sekarang, sangat jarang bisa ditemui ada anak-anak memainkan dolanan (permainan) tradisional. Yang ada, kebanyakan anak-anak sibuk dengan gadgetnya masing-masing, meskipun mereka berkumpul bersama.

Padahal, menurut pakar sosiologi kesehatan UGM, Sumarni DW, permainan-permainan tradisional yang dimainkan bersama, seperti gobak sodor, cublak-cublak suweng, dan jaranan bisa mencegah perilaku agresif anak ataupun remaja, yang akhir-akhir ini cukup meresahkan.

“Sekarang banyak anak-anak berperilaku agresif karena anti-sosial,” kata Sumarni dalam Talkshow tentang Menggiatkan Dolanan Tradisional untuk Kesehatan Anak”, di UGM, Jumat (27/7/2018).

Baca Juga:  2016, Forpi Yogya Fokuskan 7 Pantauan

Itu karena saat anak-anak bermain bersama, ada interaksi sosial, aktivitas fisik, gerak kasar dan gerak halus, serta ada kompetisi yang sifafnya positif. Kompetisi positif yang dimaksud adalah timbul rasa saling menyayangi, melindungi, dan menolong. Menurutnya, kearifan lokal yang diwariskan oleh nenek moyang melalui berbagai permainan tersebut, bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai luhur.

Namun tak sekedar gangguan perilaku pakar tumbuh kembang anak, Mei Neni Sitaresmi juga memaparkan bahwa sekarang ini masalah yang muncul adalah banyak anak mengalami obesitas, karena perubahan pola bermain mereka. Sebab, jika dulu anak-anak saat bermain banyak melakukan eksplorasi dan melakukan aktivitas fisik, visual, pendengaran, dan interaksi sosial dengan orang lain, sekarang tidak lagi.

Baca Juga:  Kasus Kekerasan Seksual yang melibatkan Mahasiswa Kembali Terungkap, UGM Ambil Langkah Ini

“Anak-anak sekarang asyik sendiri, kelihatannya orang banyak tapi kok tertawa sendiri (dengan gadgetnya). Ini yang menjadi keprihatinan kami,” sesal Mei.

Pihaknya juga berpendapat, secanggih apapun teknologi tak akan bisa menggantikan peran orang tua dan lingkungan dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Meskipun bisa memberikan manfaat selama digunakan secara bijak.

Karena itu, lanjut Mei, perlu adanya family plan penggunaan digital yang disepakati bersama dan menempatkan orang tua sebagai rule model bagi anak-anaknya.

Baca Juga:  Di Yogyakarta, Puncak Gerhana Bulan Total akan Terlihat selama 1 Jam

Sementara Bambang Nurcahyo Prastowo selaku pakar teknologi informasi menekankan, saat anak menggunakan gadget untuk game, maka yang terpenting orang tua bisa membatasi dan mengawasi mereka dengan baim. Misalnya, dengan memilihkan permainan yang sederhana bagi anaknya. (sutriyati)