Sore ini, Komunitas Jagongan Naskah akan Gelar Diskusi Perdana di Pura Pakualaman Yogya

(dok. Perpustakaan Pura Pakualaman)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Akhir-akhir ini, pemerintah memberikan perhatian lebih pada pelestarian naskah kuno. Salah satunya dengan pembangunan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI). Gedung tujuh lantai itu, selain menyimpan segudang pustaka dan arsip, juga terdapat ruangan khusus untuk penyimpanan naskah kuno.

Di samping itu, melalui museum dan perpustakaan, pemerintah daerah juga turut berperan dalam pelestarian koleksi naskah-naskah kuno.

Naskah-naskah tersebut juga didiskusikan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia, sehingga dapat diakses publik. Mengingat, naskah-naskah kuno yang asli ditulis dalam aksara dan bahasa kuno, antara lain seperti aksara Jawa, Arab Jawi, Pegon, Dewanagari, dan Bali. Naskah kuno itu kebanyakan berisi informasi tentang banyak hal, seperti sejarah, obat-obatan, kuliner, khasanah pusaka, dan tentu saja kearifan-kearifan para leluhur Nusantara.

Karenanya, masyarakat juga turut bertanggung jawab atas pelestarian naskah kuno warisan leluhur, dengan hadirnya forum-forum diskusi maupun komunitas perihal naskah kuna mulai tumbuh di berbagai daerah, meskipun belum banyak.

Baca Juga:  Walhi Menduga Banjir dan Tanah Longsor di DIY Karena Perubahan Bentang Alam

Di Yogyakarta sendiri, hingga kini belum ada komunitas yang fokus mengkaji dan mendiskusikan naskah-naskah kuno. Hal tersebut menggugah para filolog muda Yogyakarta untuk membuat komunitas Jagongan Naskah (Jangkah). Di ranah akademik, Filologi adalah bidang ilmu yang mengkaji tentang pernaskahan. Dan Filolog adalah subjek yang menekuni bidang filologi.

Komunitas ini dipelopori oleh Muhammad Bagus Febriyanto, dan Taufiq Hakim. Keduanya merupakan alumni Sastra Nusantara UGM. Bagus juga seorang Penghageng Urusan Macapat Kadipaten Pakualaman dan peneliti di Perpustakaan Pakualaman Yogyakarta.

Jangkah (jw) berarti ‘Langkah’ (ind), bermakna filolog-filolog milenial di Yogyakarta harus dapat melangkah pasti, bergerak turut mewarnai kehidupan akademik di kota pendidikan. Dengan menggali “kas kaya” yang tersimpan dalam naskah-naskah kuna Nusantara.

Harapannya, Jangkah bersama para filolog-filolog milenial mampu memberikan sumbangsih pemikiran dan solusi terhadap persoalan bangsa melalui studi kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diwariskan para leluhur Nusantara kepada kita generasi milenial.

Baca Juga:  Pusham UII: Ada Indikasi Pelanggaran HAM dalam Kasus Tewasnya Siyono oleh Densus 88

Sebagai langkah awal, Jangkah akan menggelar diskusi bertajuk Dokumentasi Estetis-Literer Seni Tari Paku Alam IV (1864-1878), pada Sabtu (29/09/2018) di Gedhong Danawara, Kompleks Pura Pakualaman, Yogyakarta, mulai pukul 15.00 WIB

“Kami kemudian wujudkan dengan tidak sekadar ngeluh dan nyinyir karena di Yogyakarta sepi diskusi filologi, tapi Jangkah hadir dalam aksi nyata,” tutur Bagus.

Diskusi perdana ini berkerja sama dengan Pawiyatan Macapat Kadipaten Pakualaman Yogyakarta, dan akan dipandu langsung oleh Bagus Febriyanto yang baru-baru ini telah merampungkan Magister Filologi di Universitas Indonesia.

Pada kesempatan ini, Bagus akan membeberkan naskah Langen Wibawa, salah satu peninggalan Paku Alam IV. Naskah ini penting dikaji lantaran menjadi dokumentasi satu-satunya yang menyimpan khasanah tari tradisi Pakualaman.

Komunitas ini, kata Bagus, juga bertujuan menjadi ajang “jagongan” yang bermutu yang mampu mengasah wawasan dan kemampuan para filolog-filolog milenial, khususnya yang bermukim di Yogyakarta.

Baca Juga:  Warga Sidorejo Bantul akan gelar Festival Jagung Bakar

“Siapa pun boleh bergabung dalam Komunitas ini. Kami juga sangat terbuka bagi berbagai pihak untuk mendiskusikan dan mengkaji naskah, baik dari kalangan umum, mahasiswa, dosen, peneliti, maupun para pakar yang bersangkutan. Kelak, kami juga berencana mengadakan program-program lain,seperti belajar bersama aksara Jawa dan membaca naskah,” tegasnya.

Pendirian Komunitas Jangkah ini juga telah mendapat restu dari Gusti Putri (G.K.B.R.A.A. PAKU ALAM) sebagai pemangku adat di Kadipaten Pakualaman. Pihaknya berjanji akan memfasilitasi jalannya acara yang digelar komunitas ini dan berharap dapat dilaksanakan setiap bulan.

“Kadipaten Pakualaman, sebagai kerajaan yang dasar pokoknya adalah pendidikan dan dari sinilah lahir tokoh pendidikan Bangsa yaitu Ki. Hajar Dewantara, maka sudah sepatutnya mendukung dan memfasilitasi,” imbuhnya. (Ed-03)

Berita Kiriman: Taufiq Hakim