Ular Besar “Masuk” Sekolah, Peserta Hizbul Wathan SMK Muhammadiyah 1 Tempel Histeris

Dua peserta Hizbul Wathan SMK Muhammadiyah 1 Tempel Sleman membopong ular piton berukuran besar (dok. kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Suara-suara histeris peserta Hizbul Wathan yang berkumpul di halaman SMK Muhammadiyah 1 Tempel, Sleman, terdengar gaduh hingga ke ruang kelas. Sebagian ada yang terlihat tegang dan ketakutan, sementara sebagian lagi justru tersengar sorak sorai.

Rupanya, para siswa kelas X dan XI yang mengikuti kegiatan kepanduan ini sedang belajar berinteraksi dengan ular piton besar yang dibawa oleh pawangnya ular dari Animal Keeper Jogja (AKJ), Saliyo.

Menurutnya, ini merupakan bagian dari kegiatan edukasi satwa ke siswa, utamanya ular. Melalui kegiatan ini, pihaknya mengenalkan satwa bukan sebagai hewan peliharaan, melainkan hewan yang memiliki peranan penting di alam.

Selain itu, juga mengajarnya bagaimana penanganan saat terjadi konflik satwa. “Selama ini ada anggapan, konfik satwa, harus dibunuh satwanya. Itu tidak akan menyelesaikan masalah, tapi justru menimbulkan masalah baru,” kata Saliyo kepada kabarkota.com, ditemui usai kegiatan.

Baca Juga:  BEM KM UGM bentuk forum siaga kebakaran hutan

Dengan membunuh satwa, lanjutnya, populasi hama seperti tikus menjadi semakin tak terkendali. Padahal tikus merupakan binatang pembawa virus penyakit yang membahayakan bagi manusia.

Selain itu, pada kesempatan tersebut, AKJ juga mengajarkan cara mengenali jenis ular, bagaimana cara mengusirnya yang aman, dan penanganan saat digigit ular berbisa.

“Jenis ular itu cuma ada dua, berbisa dan tak berbisa. Kita bisa mengenali dari karakternya. Kalau didekati dia menjauh, biasanya bukan ular berbisa. Kalau didekati diam saja, maka kemungkinan itu ular berbisa. Karakter ular berbisa lebih kalem,” jelasnya.

Sedangkan untuk mengusir ular, Saliyo menambahkan, bisa menggunakan kayu atau bambu yang panjangnya minimal dua kali panjang ular, maupun disemprot dengan parfum atau obat nyamuk.

Baca Juga:  Remaja Disabilitas Masih Memandang Tabu Soal Ini

“Kenapa harus pakai kayu yang panjangnya dua kali panjang ular? Karena ular bisa menyerang dengan 2/3 tubuhnya, dan bahkan ada jenis ular yang bisa meloncat,” imbuhnya.

Sementara untuk penanganan konflik dengan ular, baik berbisa maupun tak berbisa. Ular berbisa saat menggigit akan meninggalkan bekas gigitan taring, sehingga orang yang tergigit harus segera mendapatkan pertolongan agar bisa tak menyebar ke bagian tubuh lainnya. Berbeda penangannya saat ular tak berbisa menyerang dencan cara melilit tubuh. Saat terlilit ular, maka orang tersebut direbahkan ke tanah, tanpa banyak bergerak agar lilitannya tak semakin kuat, serta lindungi area leher karena secara insting, ular pasti akan melilit leher korbannya hingga tak bisa bernafas.

Baca Juga:  Penyebab Anak Menjadi Bodoh, Hindari 6 Makanan Ini

Orang juga perlu berhati-hati ketika mendapati ular berada di dekatnya, karena ular bisa mendeteksi keberadaan orang dari jarak 30-an meter. Jika ia menjauh maka ular tak berbahaya, tapi saat berhadapan dengan manusia ia diam; maka ini yang perlu diwaspadai karena sewaktu-waktu bisa menyerang dengan bisa beracunnya.

Pelatih pandu Hizbul Wathan SMK Muhammadiyah 1 Tempel, Juang Mahron mengaku, kegiatan pengenalan satwa jenis reptil ini penting digelar, karena sangat bermanfaat bagi anggota pandu yang biasa bersinggungan langsung dengan kegiatan-kegiatan di alam bebas. (Rep-01)