Pilpres 2019, Siapa Paslon Terkuat?

Ilustrasi: Jokowi (kiri) dan Prabowo (kanan). (dok. istimewa)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 kian mendekati hari “H”. Persaingan antar kandidat, baik pasangan calon (paslon) no urut 01, Joko Widodo (Jokowi) – Ma’ruf Amin , maupun paslon no urut 02, Prabowo Subianto – Sandiaga Salahuddin Uno juga semakin menghangat.

Berbagai bentuk kampanye digelar untuk menyampaikan visi misi hingga janji-janji program kerja demi menggaet suara pemilih. Di sisi lain, ada sejumlah lembaga survei yang mencoba mengukur “kekuatan” masing-masing kubu untuk memenangkan Pilpres 2019, berdasarkan pilihan responden.

Lalu, seberapa besar kans kemenangan kedua kubu, pada 17 April 2019 mendatang? Peneliti Research Centre for Politics and Government (PolGov), Fisipol, UGM, Wegik Prasetyo memperkirakan, kans kemenangan terbesar masih berada di kubu petahana. Prediksi tersebut berdasarkan tren hasil survei elektabilitas kedua paslon dari sejumlah lembaga survei, pada tahun 2018 dan 2019.

Dari hasil survei Indo Barometer yang dirilis oleh sejumlah media, baru-baru ini, misalnya, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin diperkirakan unggul dengan perolehan 50.2% suara, dibandingkan pasangan Prabowo-Sandi dengan 28.9% suara, dari total.1.200 reponden yang diambil sampelnya di 34 provinsi, pada 6-12 Februari 2019, dan margin error 2.83%.

Baca Juga:  Menggagas Bumi Cantik Tanpa Plastik di Kalangan Milenial Yogya

Begitu pun dengan hasil survei Litbang Kompas pada 22 Februari – 5 Maret 2019 yang juga memperkirakan Paslon 01 unggul di angka 49.2%, sedangkan paslon 02 sebanyak 37.4%, dan 13.4% lainnya masih merahasiakan pilihannya. Meski demikian, angka tersebut menunjukkan penurunan, jika dibandingkan survei pada Oktober 2018, di mana jumlah dukungan untuk Jokowi – Ma’ruf sebanyak 52.6%, dan Prabowo-Sandiaga 32.7%, serta 14.7% responden lainnya menyatakan rahasia.

“Dalam survei kompas, penantang menunjukan kenaikan elektabilitas yang cukup besar. Hal ini menarik untuk melihat tren pergerakan elektabilitas menjelang hari pemilihan, karena secara umum undecided voters akan menentukan pilihan di masa tenang dan menjelang hari H,” jelas Wegik saat dihubungi kabarkota.com, Rabu (27/3/2019).

Oleh karenanya, masing-masing paslon perlu mempekuat basis massa yang sudah solid dan mencoba menggaet undecide voters. Kandidat ataupun timses perlu memetakan daerah dan ceruk mana yang dapat secara efisien dan efektif digaet di sisa masa kampanye ini.

Baca Juga:  Banjir dan Longsor di DIY: 2 Korban Meninggal, 3 orang Hilang

Menurutnya, kandidat ataupun timses penting untuk mempertimbangkan variabel secara wilayah dan secara usia pemilih. “Wilayah dan tipe pemilih mana yang masih mungkin digaet dalam sisa waktu ini,” anggapnya.

Sementara pengamat politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Bambang Eka Cahya Widodo justru beranggapan bahwa lmbaga survei merupakan bentuk partisipasi masyarakat, sehingga hasilnya harus dilihat sebagai sebuah proses yang bisa saja berubah hasilnya. Tergantung metodologi, margin error dan pengambilan sampel.

“Jadi tidak semua lembaga survei jujur dan terbuka. Karena itu publik harus memahami survei yang dilakukan. Jika survei itu benar dilakukan, dan taat asas, kemungkinan bisa dipercaya. Tapi jika sekedar mengejar band wagon effect, ya sama seperti kampanye,” jelas Bambang.

Oleh karenanya Bambang menyatakan, cukup sulit menjadikan hasil survei sebagai ukuran keberhasilan masing-masing paslon dalam mendulang suara. Terlebih, karakter pemilih dalam pemilu itu terbilang unik. Ada yang tertarik dengan figur, tapi ada juga yang tertarik karena programnya.

Baca Juga:  Tak Punya E-KTP, Warga Yogya Terancam Tak Punya Hak Pilih dalam Pilwalikota 2017

“Tidak mudah menentukan siapa yang menang kalau hanya dari tawaran program. Tergantung pada citra diri yang ditampilkan masing masing kandidat. Ada yang senang figur merakyat, ada juga yang senang figur yang kuat tak mudah didikte,” tegasnya.

Ditambahkan Bambang, meskipun Jokowi tampil dengan strategi figur merakyat yang sudah terbukti berhasil di tahun 2014, belum tentu di tahun 2019 ini masyarakat tertarik dengan Jokowi lagi. Begitu juga dengan Prabowo yang sejak tahun 2014 lalu tampil dengan figur gentleman yang gagah dan berani namu kalah dalam kontestasi, belum tentu di Pilpres 2019 nanti akan kembali dikalahkan, karena tantangannya sekarang berbeda.

“Kedua belah pihak harus mengubah strategi, kalau ingin menang,” ucapnya. (Rep-01)