Paguyuban Kawasan Malioboro Harapkan Revitalisasi PKL juga Gunakan Danais

Prototype desain baru lesehan Malioboro (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Paguyuban Kawasan Malioboro Yogyakarta berharap, penataan kawasan Malioboro termasuk Pedagang Kali Lima (PKL) bisa menggunakan Dana Keistimewaan (Danais).

Harapan tersebut sebagaimana disampaikan Presidium Paguyuban Kawasan Malioboro, Sujarwo Putra, dalam Obrol Santai tentang wajah baru Malioboro, depan kompleks Kepatihan Yogyakarta, Jumat (5/7/2019) malam.

“Malioboro ini bisa dipandang sebagai sebuah Mall super besar dan panjang yang beroperasi hampir 24 jam,” kata Sujarwo.

Menurutnya, potensi timbulnya sampah juga berlangsung dalam rentang waktu yang sama. Sehingga ada keluhan besar yang muncul dari waktu ke waktu berkaitan dengan keindahan Malioboro.Pertama, soal kotor yang bersumber dari sampah maupun limbah. Kedua, kumuh yang berakar dari penampilan secara keseluruhan.

Baca Juga:  Besaran Premi, akar Masalah BPJS?

Oleh karenanya, lanjut Sujarwo, berkenaan dengan penanganan kekumuhan, maka pihaknya mengenalkan prototype desain baru lesehan, dengan memasukkan unsur modern tanpa menghilangkan ciri khas lesehan di Malioboro.

Sedangkan untuk masalah kotor karena sampah, maka akan diatasi dengan konsep Total Care Kebersihan Malioboro yang akan diuji-cobakan pada 7 Juli 2019 mendatang.

“Kami akan mengkampanyekan Jaka & Lisa atau Jaga
Kebersihan dan Lihat Sampah Ambil, dengan membagikan bunga dan balon kepada pengunjung,” ungkapnya.

Khusus pembagian bunga, kata Sujarwo, akan dimulai pada pukul 08.00 WIB, dan pukul 17.00 WIB, di area gerbang Kepatihan Jalan Malioboro sayap timur yang menjadi lokasi uji coba.

“Dalam hitungan kami, untuk kawasan sepanjang sekitar 1.200 meter, hanya diiperlukan kurang dari 100 petugas. Sekarang bandingkan dengan petugas keamanan Malioboro yang jumlahnya hampir 200 orang. Sementara petugas kebersihan hanya lima
orang setiap shift,” ujarnya.

Baca Juga:  Lion Air Turunkan Tarif Tiket semua Jaringan

Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi menganggap, upaya tersebut sebagai bagian dari kepedulian komunitas Malioboro dalam menjaga kebersihan dan kesehatan kawasan, sehingga semakin menarik untuk dikunjungi.

“Insya Allah dengan gerakan-gerakan seperti ini, Malioboro semakin tertata. Semakin banyak yang peduli serta bertanggung jawab untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan kenyamanan Malioboro,” ucapnya.

Sementara salah seorang pengunjung dari Bogor, Jawa Barat, Paiman menilai, dari sisi kebersihan, tampilan desain baru lesehan memang terlihat lebih bersih. Hanya saja ia berpendapat bahwa akan lebih baik jika para PKL yang selama ini berjualan kuliner di luar lapak lesehan, seperti tukang sate juga diberikan ruang yang berdekatan dengan tenda-tenda lesehan, sehingga ciri khas Malioboro tetap ada.

Baca Juga:  Mahasiswa UGM olah Limbah Sabut Kelapa Menjadi Coco Fiber

Mbok-mbok yang jualan di sana itu kan bagian dari ciri khasnya Malioboro sebenarnya,” anggap Paiman.

Selain tenda-tenda lesehan, kuliner dengan harga lebih terjangkau untuk masyarakat kelas bawah semestinya juga diperbanyak, sehingga wisatawan yang datang mempunyai pilihan lapak PKL mana yang akan dikunjungi. (Rep-03)