2019, Jogja Smart Province akan Diterapkan di Sumbu Filosofi

Diskusi Terbatas “Jogja Menuju Smart Province yang tetap Berbudaya”, di Plaza informasi Yogyakarta, Kamis (17/10/2019).
(dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) akan mulai menerapkan Jogja Smart Province (JSP) di sepanjang sumbu filosofi Yogyakarta.

Hal tersebut seperti disampaikan oleh Kepala Seksi (Kasi) Aplikasi Layanan Publik Bidang Aplikasi Informatika Diskominfo DIY, Sayuti Egaravanda dalam Diskusi Terbatas “Jogja Menuju Smart Province yang tetap Berbudaya”, di Plaza informasi Yogyakarta, Kamis (17/10/2019).

“Jadi sumbu filosofi Yogya itu dari Panggung Krapyak sampai ke Tugu,” jelasnya.

Guna merealisasikan tantangan Gubernur DIY tersebut, Sayuri mengklaim telah mempersiapkan berbagai infrastruktur pendukungnya, seperti saluran fiber optic.

Lebih lanjut pihaknya menjelaskan, ruh dari penerapan JSP ini adalah tiga nilai keistimewaan DIY, yakni Sangkan Paraning Dumadi, Hamemayu Hayuning Bawono, serta Manunggaling Kawulo Gusti. Kemudian, diaktualisasikan dalam bentuk Smart Culture, Smart Living, Smart Governance, Smart Environment, dan Smart Society.

Kepala Bidang (Kabid) Aplikasi Informatika Diskominfo DIY, Bayu Februarino Putro menambahkan, dalam mengawali JSP, maka yang perlu dipersiapkan paling awal adalah regulasinya, melalui Peraturan Daerah (Perda) DIY No. 49 Tahun 2019 tentang Jogja Smart Province.

Selain itu juga berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk media yang menjadi bagian dari pilar Smart City. Bayu berasumsi bahwa posisi media sebagai partner positif dalam mewujudkan JSP.

Baca Juga:  Penduduk Miskin di Yogya 9,38 Persen

“Dalam arti, bukan hanya memberikan kritik. Kritik memang harus tetapi beri juga kami apresiasi‚Ķ,” harapnya.

Sementara Ahmad Djunaedi dari Departemen Teknik Arsitek dan Perencanaan Fakultas Teknik UGM berpendapat bahwa dalam mewujudkan JSP memang perlu pelibatan dan partisipasi masyarakat. Salah satu bentuk pelibatan masyarakat itu adalah dengan menempatkan mereka sebagai living lab yang justru akan meringankan kerja pemerintah.

Selain itu, lanjut Ahmad, di internal Pemda juga perlu ada integrasi. “Ini yang sulitnya bukan main,” anggapnya.

Baca Juga:  Jadwal Pemadaman Listrik di Gunung Kidul per 9 Maret 2019

Syaiful Bachtiar selaku perwakilan dari swasta, dalam hal ini manajemen sebuah start up ternama karya anak negeri, menyatakan siap untuk berkolaborasi dengan Pemprov DIY. Terlebih, selama ini, pihaknya juga telah memberikan kontribusi besar ke pemerintah, dengan perputaran uang sekitar Rp 55 Triliun (2018). Dari jumlah tersebut, khusus DIY sebesar Rp 2.5 triliun, melalui penghasilan para mitranya. (Rep-02)