3 km Jalur Evakuasi Bencana Merapi di Glagaharjo Sleman butuh Perbaikan

Diskusi “Merawat Ketangguhan Warga Merapi”, di BPPTKG DIY, Selasa (21/5/2019). (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Hidup di Kawasan Rawan Bencana (BRB) Gunung Merapi membutuhkan tingkat kewaspadaan tinggi, serta pemahaman mitigasi bencana supaya bisa hidup harmonis bersampingan dengan alam (living in harmony).

Di sisi lain, sarana dan prasarana pendukung keselamatan, seperti jalur evakuasi juga perlu dipersiapkan dengan baik agar saat terjadi bencana bisa meminimalisir jatuhnya korban jiwa.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Joko Supriyanto mengatakan, upaya mitigasi bencana khususnya bagi masyarakat di KRB adalah dengan membentuk desa tangguh bencana dan sekolah siaga bencana.

“Sekarang ini sudah ada 47 desa tangguh bencana, dan 63 sekolah siaga bencana, ungkap Joko dalam diskusi “Merawat Ketangguhan Warga Merapi”, di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIY, Selasa (21/5/2019).

Terkait sarana dan prasarana, Joko mengaku, pihaknya telah memasang 17 Early Warning System (EWS), memperbaiki jalur-jalur evakuasi yang rusak sengan memberikan dana stimulus kepada masyarakat, serta membangun titik-titik kumpul saat terjadi bencana letusan Gunung Merapi.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman juga tengah menyiapkan Peraturan Bupati (Perbup) yang pada intinya tak akan membolehkan lagi jalur evakuasi untuk jalur lain, seperti kendaraan truk pengangkut pasir.

“Jalur evakuasi mandiri juga sudah disiapkan,” tegasnya.

Sementara Kepala Desa (Kades) Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY, Suroto membenarkan bahwa memang telah ada dana stimulus yang dikucurkan untuk memperbaiki jalur-jalur evakuasi, namun itu hanya khusus jalur yang masuk ke perkampungan.

“Jalur evakuasi masih ada 3 km yang perlu diperbaiki,” ucap Suroto.

Jalur yang rusak tersebut, menurut Suroto, merupakan jalur penghubung wilayah ke Barat yang dijanjikan selesai perbaikannya pada tahun 2019 ini. Mengingat, di Glagaharjo masih terdapat sekitar 400 Kepala Keluarga (KK) di tiga pedukuhan yang enggan mengungsi, sehingga kuncinya adalah penyiapan jalur evakuasi.

“Selama ini masyarakat ikut di jalur perbatasan… Namun, ketika letusan freatik terjadi, jalur di perbatasan sudah penuh,” sesalnya.

Pihaknya juga meminta agar dalam perbaikan jalur itu nantinya tidak dalam bentuk pengaspalan melainkan pengecoran. Suroto juga berharap, jalur untuk perekonomian warga, kaitannya dengan jalan untuk truk pengangkut pasir juga perlu disiapkan dengan baik. Sebab tanpa itu, perekonomian masyarakat juga tak akan berjalan dengan baik.

Sementara Direktur Pusat Studi Manajemen Bencana (PSMB) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno berpendapat bahwa Merapi memberikan banyak pelajaran bagi masyarakat, khususnya dalam hal penanggulangan bencana.

“Rasanya, Merapi itu guru kita,” kata Eko.

Dosen Jurusan Teknik Geologi dan Teknik Lingkungan Fakultas Teknologi Mineral UPN Veteran Yogyakarta ini juga menilai, dari waktu ke waktu, upaya penanggulangan bencana yang dilakukan semakin baik. Termasuk, jalinan komunikasi antarpihak terkait. (Rep-02)