4 Alasan Gestob Tolak Groundbreaking Bandara Kulon Progo oleh Jokowi

Gestob gelar jumpa pers terkait penolakan rencana groundbreaking bandara baru Kulon Progo, di LBH Yogyakarta, Kamis (26/1/2017). (Sutriyati/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Sebanyak 80 elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam Gerakan Solidaritas Tolak Bandara (Gestob) New Yogyakarta International Airport (NYIA) Kulon Progo secara tegas menolak rencana groundbreaking atau peletakan batu pertama pembangunan bandara oleh Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi), Jumat (27/1/2017) besok.

Penolakan tersebut bukan tanpa alasan. Mengingat, Yogi Zul Fadhli dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta memaparkan, ada empat hal mendasar yang tidak dipenuhi oleh Pemerintah terkait rencana pembangunan mega proyek tersebut.

Pertama, Zul mengatakan, proyek yang diperkirakan menelan dana sekitar Rp 9,3 Triliun tersebut beresiko besar merugikan kepentingan masyarakat, karena lokasinya sangat dekat dengan pesisir sehingga rawan tsunami.

“Seharusnya di sana sebagai kawasan lindung geologi yang secara Undang-undang diatur dalam tata ruang wilayah,” ungkap Zul kepada wartawan, di LBH Yogyakarta, Kamis (26/1/2017).

Kedua, menurutnya, saat ini AMDAL untuk pembangunan bandara baru masih dalam proses yang juga cacat hukum akut karena prosesnya tidak sesuai prosedur yang seharusnya dilewati.

Selain itu, lanjut Zul, dalam peraturan tata ruang sebenarnya juga tidak ada amanah untuk membangun bandara baru, melainkan hanya pengembangan bandara Adi Sutjipto Yogyakarta yang terintegrasi dengan bandara Adi Sumarmo di Solo, Jawa Tengah.

Alasan terakhir, Gestob menilai bahwa dengan pembangunan bandara baru di kawasan Temon, maka justru akan menghilangkan mata pencaharian 12 ribu petani terong dan gambas, 6 ribu petani semangka dan melon, serta 4 ribu petani cabai. Padahal, tiap hektar lahan yang mereka garap mampu menghasilkan sekitar 90 ton terong dan semangka, 60 ton gambas, 180 ton melon dan cabai.

Sementara, Naomi Srikandi, pelaku seni di Yogyakarta, juga meminta agar masyarakat terutama kalangan seniman kritis terkait rencana pembangunan bandara di Kulon Progo.

“Pembangunan bandara itu hanya akan melukai kepentingan umum karena membahayakan masyarakat,” ujar putri WS Rendra ini. (Rep-03/Ed-03)