4 Tahun Berdiri, Keraton Yogya Hadapi Tantangan Kelola “Tandha Yekti” berbasis IT

Ngobrol Santai tentang Lingkungan Bersama Sri Sultan: Melestarikan Indonesia, di bangsal Sri Manganti, Kompleks Keraton Yogyakarta, Selasa (15/3/2016). (Sutriyati/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Proses pendokumentasian dan pengarsipan Keraton Yogyakarta telah berlangsung sejak dulu kala, namun hingga kini, belum banyak orang yang mengenal apalagi mengerti banyak hal tentang kerajaan yang satu ini.

Seiring dengan perkembangan information technology (IT), Keraton Yogyakarta pun mulai mempublikasikan dokumentasi dan arsip tersebut dengan berbasis teknologi informasi sehingga lebih mudah diakses oleh masyarakat. Tidak hanya di Yogyakarta, tetapi juga masyarakat seluruh dunia melalui jaringan internet. Proses pendokumentasian dan pengarsipan tersebut menjadi tugas dari Tepas Tandha Yekti.

Pengageng Tepas Tandha Yekti Keraton Yogyakarta, Gustu Kanjeng Ratu (GKR) Hayu mengatakan, selama hampir empat tahun tepas ini berdiri, pihaknya masih menghadapi berbagai tantangan.

“Kami menyediakan servicenya tapi yang mengerjakan tepas masing-masing, masalahnya di tepas lain SDM-nya sudah relatif tua dan tidak paham IT,” ungkap GKR Hayu, dalam Ngobrol Santai tentang Lingkungan Bersama Sri Sultan: Melestarikan Indonesia, di bangsal Sri Manganti, Kompleks Keraton Yogyakarta, Selasa (15/3/2016).

Namun demikian pihaknya berharap, layanan tersebut bisa mengembalikan ketertarikan generasi muda dalam mengenal warisan budayanya, di tengah anggapan bahwa teknologi itu ‘bermusuhan’ dengan budaya.

Sri Sultan Hamengku Buwono X, Raja Yogyakarta yang tak lain juga ayah dari GKR Hayu meminta, agar para generasi muda yang memiliki kemampuan dan kepedulian terhadap pelestarian budaya yang berkaitan dengan Keraton Yogyakarta, bisa menyumbangkan ide dan gagasannya untuk pengembangan tepas tandha yekti.

“Manfaatkan saja, siapa tahu bisa menjadi potensi baru. Yang penting, tumbuh kreativitas, inovasi baru karena kekuatan kita di situ,” pinta Sultan.

Dalam menyikapi modernisasi, Sultan juga menyatakan cenderung menggunakan pendekatan budaya sebagai langkah yang strategis karena bisa menjaga karakter dan integritas.

Senada dengan Sultan, Direktur Komunikasi Advokasi WWF Indonesia, Nyoman Iswarayoga juga menganggap bahwa pendekatan budaya itu menjadi hal yang penting. Terlebih, pendekatan itu sudah terbukti efektif diterapkan di Keraton Yogyakarta (Rep-03/Ed-03)