7 Siwa SMPN 1 Turi Meninggal, Sultan Sampaikan Bela Sungkawa

Tim SAR gabungan yang melakukan penelusuran dan penyelamatan siswa SMP N 1 Turi, Sleman (dok. istimewa)

SLEMAN (kabarkota.com) – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X meninjau SMP N 1 Turi dan mengunjungi para korban di Puskesmas setempat, pada 21 Februari 2020 malam.

Pada kesempatan ini, Sultan meminta, agar pihak sekolah bertanggung-jawab atas musibah tersebut. Pihaknya juga menyesalkan aktivitas susur sungai yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, pada 21 Februari 2020, sekitar pukul 15.30 WIB itu.

“Saya menyampaikan rasa duka yang mendalam sekaligus prihatin,” ucap Sultan melalui pernyataan tertulisnya, Sabtu (22/2/2020).

Sultan meminta penanganan terhadap para korban segera ditindaklanjuti. Selain itu, pihaknya mengimbau agar sekolah, kelompok masyarakat ataupun kelompok organisasi lainnya dapat menghindari sungai dan aktivitas susur sungai saat musim hujan, karena sangat berbahaya.

Baca Juga:  10 September akan ada 'kejutan' di BATAN DIY

TRC BPBD DIY: 7 Korban Meninggal, 3 Siswa Belum Ditemukan

Sementara Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Pristyawan menyampaikan, berdasarkan laporan per 22 Februari 2020, pukul 04.30 WIB, jumlah korban yang ditemukan meninggal dunia bertambah menjadi tujuh orang. Sedangkan siswa yang masih dinyatakan hilang sebanyak tiga orang.

“Satu korban ditemukan di atas pukul 24.00 WIB,” ungkap Prityawan kepada kabarkota.com, Sabtu (22/2/2020).

Sedangkan jumlah korban luka sebanyak 23 siswa. Dua diantaranya masih rawat inap di Puskesmas Turi, dan 21 siswa lainnya rawat jalan.

Menurutnya, dalam pencarian dan penyelamatan, tim SAR Gabungan menurunkan personel di tujuh titik pantau sungai Sempor. Posko operasi SAR juga didirikan di rumah Dukuh Sempor, dan pusat informasi data pencarian orang berada di SMPN 1 Turi.

Baca Juga:  Reformasi Birokrasi, Sultan: Kalau tak Mau Berubah, ya tak Tinggal

Adapun data tujuh siswa yang dinyatakan meninggal adalah sebagai berikut:

1. Sovie Aulia (Kelas 8C) asal Srumbung, Magelang, Jawa Tengah.

2. Arisma Rahmawati (kelas 7D) asal Ngentak, Tepan, Bangunkerto, Turi, Sleman, DIY.

3. Nur Azizah (kelas 8A) asal Kembangarum, Donokerto, Turi, Sleman, DIY.

4. Lathifa Zulfaa (kelas 8B) asal Kembangarum, Donokerto, Turi, Sleman, DIY

5. Khoirunnisa Nurcahyani Sukmaningdyah (Kelas 7C) asal Karanggawang, Girikerto, Turi, Sleman, DIY.

6. Evieta Putri Larasati (Kelas 7A) asal Soprayan, Girikerto, Turi, Sleman, DIY.

Baca Juga:  Heritage Yogya jadi Incaran Asing

7. Faneza Dida (kelas 7A) asal Glagahombo, Girikerto,Turi, Sleman, DIY.

Tiga siswa yang belum ditemukan, yakni:

1. Yasinta Bunga (Kelas 7B), dengan ciri-ciri ada tahi lalat di pipi, tinggi ±150cm, BB 40kg, kulit putih, dan rambut agak keriting sepinggang.

2. Zahra Imelda (Kelas 7D). Ciri-ciri: hitam manis, tinggi 140 cm, rambut sebahu bergelombang, dan agak kurus.

3. Nadine Fadilah (Kelas 7D). Ciri-cirinya: kecil, kurus, kuning langsat, dan tinggi 140 cm. (Rep-01)