900-an Lokasi Rawan Longsor di Indonesia, Masyarakat harus Berbuat Apa?

Ilustrasi (dok. bnpb)

JAKARTA (kabarkota.com) – Saat musim penghujan seperti sekarang ini, tak hanya ancaman bencana banjir dan angin kencang yang perlu diwaspadai, tapi juga bencana tanah longsor. Tanah longsor di Sukabumi, Jawa Barat yang terjadi baru-baru ini menjadi salah satu contoh riilnya.

Berdasarkan data Vulcanological of Survey Indonesia (VSI) di laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), setidaknya terdapat 918 lokasi rawan longsor di Indonesia, yang mengancam sekitar 1 juta jiwa , dan kerugian sekitar Rp 800 miliar per tahunnya.

Dari 918 lokasi rawan longsor yang dimaksud, 327 lokasi di Jawa Tengah, 276 lokasi Jawa Barat, 100 lokasi di Sumatera Barat, 53 lokasi di Sumatera Utara, 30 lokasi di Yogyakarta, 23 lokasi di Kalimantan Barat, dan sisanya tersebar di NTT, Riau, Kalimantan Timur, Bali, dan Jawa Timur.

Karenanya, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, dengan mengenali jenis-jenis tanah longsor, apa tanda-tandanya, dan bagaimana cara mencegahnya.

Tanah longsor sebenarnya merupakan perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng.

Proses kejadiannya, air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan
sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak
mengikuti lereng dan keluar lereng.

Kenali Jenis Pergerakan Tanahnya

Umumnya, ada enam jenis tanah longsor atau pergerakan tanah yang terjad di Indonesia.

Pertama, longsoran translasi, yakni bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

Kedua, longsoran rotasi atau bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung.

Ketiga, pergerakan blok yang merupakan perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu.

Keempat, runtuhan batu, yaitu runtuhan yang terjadi ketika sejum-lah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas.
Longsor jenis ini biasanya terjadi pada lereng yang terjal hingga menggantung terutama di daerah pantai. Bebatuan besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan parah di lokasi bencana.

Kelima, rayapan tanah, yakni jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Biasanya jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama, longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.

Keenam, aliran bahan rombakan. Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak karena didorong oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Bahkan, fi beberapa tempat, gerakannya bisa mencapai ribuan meter. Misalnya, di daerah aliran sungai sekitar gunung api. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.

Dari enam jenis tersebut, longsoran translasi dan rotasi yang paling banyak terjadi di Indonesia. Sedangkan longsoran yang paling banyak memakan korban jiwa adalah aliran bahan rombakan.

Sebelum terjadinya longsor, umumnya muncul retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing yang terjadi setelah hujan. Selain itu, muncul mata air baru secara tiba-tiba, serta tebing rapuh, dan kerikil mulai berjatuhan.

Penyebabnya bisa karena hujan, lereng yang terjal, tanah yang kurang padat dan tebal, batuan yang kurang kuat, jenis tata lahannya, getaran, susunan muka air danau dan bendungan, atau karena adanya beban tambahan, seperti beban bangunan pada lereng.

Tak hanya itu, longsor juga bisa disebabkan oleh faktor pengikisan atau erosi, material timbunan pada tebing, bekas longsoran lama, adanya bidang tidak sinambung (diskontinuitas), penggundulan hutan, dan daerah pembuangan sampah.

Lalu, bagaimana cara mencegah bencana tersebut?

Banyak cara bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya pergerakan ranah, diantaranya:

  • Jangan mencetak sawah dan membuat kolam pada lereng bagian atas di dekat pemukiman.
  • Bila hendak membangun pemukiman pada lereng yang terjal, maka buatlah terasering (sengkedan).
  • Segera menutup retakan tanah dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam tanah melalui retakan tersebut.
  • Jangan melakukan penggalian di bawah lereng terjal.
  • Jangan menebang pohon di lereng
  • Jangan membangun rumah di bawah tebing.
  • Jangan mendirikan permukiman di tepi lereng yang Terjal
  • Pembangunan rumah yang benar di lereng bukit.
  • Jangan mendirikan bangunan di bawah tebing yang terjal.
  • Pembangunan rumah yang salah di lereng bukit.
  • Jangan memotong tebing jalan menjadi tegak.
  • Jangan mendirikan rumah di tepi sungai yang rawan erosi. (Ed-01)