Agar Tak Ada Lagi Orang yang Dibakar Massa atau Dibunuh Ramai-ramai

Judulnya panjang dan sangat menohok, ya. Tapi, percayalah saya juga tertohok, dan ingin membantu mengurai, sayaukur-sayaukur membantu memecahkan masalah.

Para jurnalis sebetulnya punya tugas jurnalistis untuk mengungkap aspek, “Why” sebuah kejadian, lebih dibanding aspek “What” kejadian.Karena itu, mencari jawab mengapa penting, dan kemudian mewawancarai para ahli, untuk mengusulkan rencana pemecahan (How, to resolve the problem).

Soal mengapa orang membunuh, hasil reportase dan pengamatan saya sekian tahun, sudah saya sampaikan di postingan saya beberapa waktu lalu. Silakan dibuka lagi. Kalau kita nonton dari luar, kita bisa lebih paham mengapa itu dilakukan.

Wartawan bisa mewawancarai dengan meluangkan waktu lebih, ke orang-orang pelaku, tokoh masayaarakat di situ, maupun saksi-saksi lugu. Kejernihan berpikir dijaga, agar tidak larut dalam ikut benci, yang menyebabkan hasil reportase tidak dalam atau sekedar permukaan.

Kalau kita nonton sebagai pengamat sosial ekonomi, kita bisa pinjam berbagai disiplin ilmu, untuk mendalami masalah, sehingga tidak hanya menyesal, atau bahkan mengecam saja. Dan tentu butuh turun ke lapangan untuk meneliti lebih detil persoalan lokal membakar orang di lingkungan masjid atau di masjid itu.

Nah kalau pakai pendekatan kritis, kita paham, bahwa kejadian tragis itu, adalah manifestasi dari puncak kesulitan pribadi-pribadi yang bermuara pada kebencian yang bisa disalurkan secara bersama. Disiplin psikologi sosial bisa dipakai untuk mendalami ini. Wawancara ahli adalah cara yang mudah dilakukan utuk mendapatkan fakta dari sudut pandang ini.

Disiplin sosiologi dan ekonomi publik atau pembangunan bisa dimanfaatkan juga untuk menelaah apa yang terjadi di masayaarakat? apakah lingkungan begitu buruk sehingga kemiskinan bisa bermuara pada kekejaman. Lingkungan rusak kah? Karena tidak ada tindakan satu pihak yang menciptakan luapan kemarahan massa, jika massa tidak amat menderita. Meledak ketika ada kesempatan kecil.

Orang Belanda mengintrodusir kata amok, yang kemudian menjadi bahasa luas dunia, seperti kata tsunami oleh orang Jepang, karena ada fakta bawah permukaan, ngamuknya orang tanpa sebab, padahal kemarin-kemarin, keteika menerima tamu, menyapa begitu santunnya.

Disiplin politik bisa, untuk memotret hilangnya panutan. Pas digebuki, tentu ada orang yang tidak setuju, tapi tidak mencegah, karena merasa tidak pada kapasitas mencegah. Pas digebuki, orang yang punya pengaruh serba sedikit atau banyak, malah ikut nggebuki dan mbakar. dst. Dan massa (crowd) mengikuti terminilogi sosiologi sering mengikuti jiwanya sendiri, bisa lepas kontrol dari arahan pimpinan.

Dengan tool analisis stakeholder, kita bisa tahu, siapa tokoh-tokoh pelaku, mengarahkan dst…
Tapi, dari pada nglantur lebih jauh, cara pencegahan mengikuti disiplin dasar-dasar perencanaan, adalah sebagai berikut:

  1. Datalah masyarakat di lingkungan masjid secara detail. Buat statistik sederhana. Tugaskan petugas khusus, mahasiswa pendatang, atau marbot (petugas bersih dan jaga, kalau di kota biasanya anak kos rantau yang mbantu bersih-bresih masjid) untuk mendata dengan rencana capaian sederhana. Berapa jumlah warga yang harus dilayani. yang kaya berapa orang, kerja apa saja, dan terutama yang miskin siapa saja. Tetap sasaran dalam memberi santunan, bantu anaknya sekolah dst. ini salah satu kunci, pengamanan lingkungan. Saya sering dikiritik oleh temen-temen sosial karena pendekatan ekonomi saya dianggap berlebihan. Ilmu sosial bilang, terpenuhinya kebutuhan ekonomi, tak menjamin tidak tercipta kekerasan. banyak bukti soal itu. Saya jawab. Iya. itu betul. Tapi, ekonomi yang terpenuhi, adalah prasayarat utama terciptanya keamanan, meski bukan satu-satunya syarat.
  2. Sesudah anda melengkapi data anda dengan data sosial, dan usahakan diskusikan dengan orang-orang yang ahli di lingkungan anda, tak harus mereka yang rajin ke masjid (ehm,…) maka gunakan tool itu untuk memecahkan masalah, dengan basis dana ummat. Misal pada situasi susah makan, pakai saja dana yang terkumpul di masjid untuk dibagikan langsung kepada jamaah yang membutuhkan atau para pendatang  Mas Hadi Subeno, mantan bupati Banjarnegara, pernah memposting soal desa di Banjarnegara, yang terkenal sebagai desa pencopet dan pencuri, sembuh total jd desa makmur dan bebas sumber copet dan maling, ketika pak Kepala Desanya, membangun masjid desa, sebagai basis penyelesaian masalah warga, secara mandiri. Caranya, dengan .mengundang orang kaya desa ke Jumatan, memohon mereka menyumbang. Dan usia jumatan, dana terkumpul langsung dibagikan habis ke jamaah yang membutuhkan. Hal ini dilakukan secara reguler. Dana tidak hanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan pangan, tetapi juga kebutuhan sekolah, dan kebutuhan sarana alat produksi para petani.

Teknis pendataan ini, kini sudah dilakukan di banyak masjid untuk kebutuhan membina warga, dan teknik mensejahterakan warga sekaligus membantu warga memecahkan masalah, akan lbh fokus lagi jika, kalangan pelajar dengan disiplin ilmu sosial, teknik dll, mau membagi ilmu dan terlibat dengan rendah hati, di masjid-masjid dan lingkungan.

Catatan saya sebagai jurnalis dan peneliti tahunan yang masih menyempatkan turun ke lapangan karena punya koran online kecil, bahwa kriminalitas dalam bentuk yang sadis massif sepreti orang yang dituduh mencuri dibakar massa, copet digebuki sampai mati, orang yang dituduh dukun dihajar dibunuh dan dikubur ramai-ramai dan contoh sadis lain yang pernah saya reportasekan indepht, lebih sering muncul jika situasi ekonomi begitu sulit buat rakyat.

kalau krisis ekonomi melanda dunia, itu sudah ditulis nabi Yunus, terjadi 7 tahunan. Tujuh tahunan pula terjadinya masa makmur. Penguasa harus bersiap untuk rakyatnya. Jika pas panen, simpanlah, jika pas gagal panen, keluarkan simpanan itu untuk rakyatmu dan untuk sekitarmu. Disiplin sedikit menutupi ajaran ini, dengan mengatakan kondisi ini terjadi siklikal. Antisipasi yang cerdas dari para pemegang keputusan di tingkat pusat dan daerah, diperlukan, dan sudah saya tulis di postingan sebelumnya. Namun, untuk kebutuhan lokal masjid, dan tingakt RT/RW ya seperti di atas penterjemahnnya.

Sekedar mengikuti saran salah satu guru, pak Kuntowijoyo dulu. Sebaiknya, kalangan intelektual turun lapangan, untuk anak-anak muslim kembalilah berbasis masjid, dengan orientasi membantu penyelesaian masalah-masalah yahg diahdapi ummat.

Ummat disini adalah ummat dalam arti luas. semuanya, baik yang datang di masjid, maupun yang tidak. baik yang ikut cara ibadahmu, maupun yang tidak. termasuk yang kelompok terkatergori lain, dan bahkan yang tidak beragama. layani semua. Untuk skop kecil masjid, adalah jamaahnya. Baik yang datang salat ke masjid, maupun yang tidak, bahkan yang tidak salat… semua…

M. Faried Cahyono/Kabarkota.com