Aksi Mulia si Inem “Edan-Edanan” jalan-jalan di Yogya

Si Inem “Edan-Edanan” saat Jalan-jalan (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Nama Inem Jalan-jalan sepertinya sudah tak asing lagi bagi sebagian masyarakat yang berada di sekitar Malioboro dan Alun-alun utara Yogyakarta.

Dengan dandanan khas “Edan-edanan”, perempuan yang bernama asli Made Diah Agustina ini memang mudah mencuri perhatian orang-orang. Apalagi ia sering jalan-jalan sendirian dengan menenteng tas bertuliskan “Inem Jalan-jalan @inemjogja”.

Namun jalan-jalannya Inem bukan tanpa tujuan, melainkan ada niat mulia di balik aksinya tersebut. Menurutnya, apa yang ia lakukan merupakan wujud rasa syukur dan terima kasihnya pada Yogyakarta yang telah memberikan banyak hal pada diri dan keluarganya.

“Ucapan terima kasih itu saya wujudkan melalui Inem Jalan-jalan ini, dengan melakukan apapun yang positif di jalan,” kata Inem kepada kabarkota.com.

Tidak hanya memungut sampah di jalan, dalam setiap aksinya, Inem juga tak segan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan di jalan, bahkan juga mengajari anak-anak yang ditemuinya agar bersopan santun.

“Kota Yogyakarta itu kan sudah istimewa, tapi kok warganya belum istimewa. Istimewa itu hanya tempelan menurut saya. Yogyakarta itu dari dulu istimewa, jadi warganya juga perlu diistimewakan. Nah, saya ingin melakukan itu dengan gerakan seperti semut, tanpa gebrakan tapi nantinya semua akan berjalan dengan sendirinya,” harap seniman tari ini.

Dandanan ala edan-edanan sengaja ia pilih karena filosofinya edan-edanan itu sebagai simbol penolak bala, sehingga menumbuhkan nilai-nilai positif di masyarakat. Sedangkan nama Inem ia pakai, karena selama ini kebanyakan orang mengidentikkan Inem dengan pelayan. “Saya ingin menjadi pelayan untuk masyarakat Yogyakarta,” tegasnya.

Perempuan yang pernah menjadi dosen di salah satu universitas swasta di Yogyakarta ini mengaku, awalnya keluarga sempat terkejut dengan aksinya. Namun lama kelamaan mereka akhirnya mendukung aksi mulianya tersebut. Bahkan, ia juga mendapatkan suntikan semangat ketika banyak pihak yang kemudian mengapresiasinya, termasuk permaisuri keraton Yogyakarta. (Rep-03/Ed-02)