Anak Muda Yogya Bicara Capres-Cawapres Ideal

Ilustrasi (sutriyati/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Dua pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden untuk Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 telah mendaftarkan diri ke Kantor Pemilihan Umum (KPU) RI, Jumat (10/8/2018). Ada banyak suara yang memperbincangkan pasangan Joko Widodo (Jokowi) – Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga Salahuddin Uno, termasuk dari kalangan generasi muda milenial di Yogyakarta

Salah satu anak muda yang juga mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Ari Susanto berpendapat, kriteria seorang pemimpin bagi bangsa Indonesia ke depan adalah harus memposisikan dirinya sebagai pengawal kompas bangsa, sebagaimana yang telah diamanatkan di dalam UUD 1945 dan Pancasila, sehingga segala upaya dalam pembangunan harus mengutamakan kemaslahatan bangsa Indonesia.

“Kaum milenial tentu butuh sosok pemimpin muda yang energik mampu menjalankan amanat bangsa sehingga akan mampu menjadi tauladan bagi generasi muda milenial. Kaum milenial ini sesungguhnya butuh sosok pemimpin yang mampu di teladani serta berbuat nyata untuk bangsa ini,” kata Ari kepada kabarkota.com, Jumat (10/8/2018).

Dari kedua pasangan capres-cawapres tersebut, Ari menilai, pada dasadnya semua calon telah memenuhi kriteria tersebut. Hanya saja, ia juga menekankan agar masyarakat perlu memahami bahwa dengan terpilihnya presiden dan wakil presiden nantinya, tidak akan serta merta menyelesaikan persoalan bangsa.

“Dibutuhkan semua perangkat negara dan kesadaran bangsa Indonesia akan masa depannya,” ucap Ari yang juga aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Yogyakarta ini.

Menurutnya, penguatan mental anak bangsa, yang tidak sekedar jargon semata, menjadi hal yang mendesak untuk dilakukan oleh pemimpin baru nantinya. selain juga soal pendidikan yang harus menjadi arus utama untuk penguatan karakter dan masa depan bangsa.

“Pemerintah harus serius menghadirkan pendidikan di seluruh pelosok negeri,” harapnya.

Sementara bagi Alifiandi Rahman Yusuf, salah satu lulusan UGM Tahun 2017, ada tiga hal yang menjadi kriteria pemimpin ideal yang ia harapkan.

Pertama, kata Ali, pemimpin harus memiliki komitmen untuk memperbaiki skor indeks ketimpangan di Indonesia. Sebab selama ini, tolak ukur pembangunan ekonomi yang dikatakan “bagus” sering hanya dilihat dari nilai GDP. Sedangkan indeks ketimpangan Indonesia pada kenyataannya justru membesar

Kedua, pemimpin juga harus memiliki komitmen untuk menjalankan pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan infrastruktur dan optimalisasi pemasukan Sumber Daya Alam memang penting, namun jika tak dijalankan dengan hati-hati, environmental cost yang harus ditanggung Indonesia akan sangat besar.

Ketiga, sebut Ali, pemimpin baru nantinya mampu menyusun kabinet kerja yang mayoritas berlatar belakang profesional, bukan parpol. Hal ini penting, agar hambatan birokratis bisa diminimalisir dan adaptif terhadap perkembangan teknologi digital. Mengingat, saat ini dunia sedang mengalami Revolusi Industri 4.0, digitalisasi di berbagai sektor.

Ditanya hal yang mendesak untuk diperbaiki, Ali mengatakan, “Menurut saya ada dua hal. Yakni, ketimpangan yang semakin lebar di masyarakat dan kerusakan lingkungan yang juga semakin parah.”

Meski begitu, Ali yang kini menjadi Peneliti di Institute of International Studies (IIS) UGM ini mengaku, belum bisa menentukan pilihan untuk Pilpres 2019, sebelum menihat jargon-jargon kampanye kedua kubu. (sutriyati)