Apa Makna Pertemuan Jokowi – Sultan di Keraton Yogya?

Pertemuan Jokowi – Sultan di keraton Yogyakarta, 27 september 2018 (dok. setkab).

SLEMAN (kabarkota.com) – Sebelum memulai tugas kenegaraanya di DIY, 28 September 2018 kemarin, pagi-pagi, Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) bersilaturrahim ke Keraton Yogyakarta. Sesampainya di keraton, Presiden bertemu Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X dan GKR Hemas beserta putri-putrinya. Mereka juga sempat sarapan bareng dengan suguhan menu-menu tradisional.

Presiden mengaku, kedatangannya kali ini, selain bersilaturrahim juga sekaligus memenuhi undangan Sultan. Sementara Sultan menegaskan bahwa pertemuannya dengan Presiden merupakan hal yang biasa sebagai sesama pejabat di pemerintahan. Terlebih, secara personal, hubungan mereka juga sudah terjalin baik, sejak Jokowi masih menjabat Walikota Solo.

Baca Juga:  BMKG Ingatkan Warga Yogyakarta Terkait Tingginya Curah Hujan

Namun karena momentumnya jelang Pemilu 2019, dan Jokowi adalah salah satu kandidat calon presiden yang masuk dalam bursa Pilpres 2019, sehingga sebagian kalangan mengaitkan pertemuan tersebut dengan kepentingan politik praktis.

Sebagaimana yang dilakukan Jokowi dan Prabowo Subianto jelang Pilpres 2014 lalu, keduanya juga sempat “sowan” ke Sultan dan keluarganya, di keraton Yogyakarta.

Lalu apa makna pertemuan Jokowi – Sultan kemarin dilihat dari kacamata politik? Adakah pengaruh yang signifikan dari keraton Yogyakarta terhadap suksesi nasional?

Baca Juga:  Jadwal Listrik Padam di DIY per 21 November 2018

Pengamat politik UGM, Bayu Dardias menganggap, tak ada yang istimewa dari pertemuan dari kedua tokoh tersebut.

“Pertemuan itu hanya menjadi semacam kulanuwun saja,” kata Bayu kepada kabarkota.com, Sabtu (29/9/2018).

Meskipun menjadi semacam “ritual” yang dilakukan oleh para kandidat capres-cawapres menyambangi Sultan, setiap kali jelang Pilpres. Namun menurut Bayu, kunjungan para kandidat ke Sultan, sama halnya dengan kunjungan mereka ke para ulama untuk meminta dukungan.

Baca Juga:  Ribuan Kosmetik dan Obat Tradisional Ilegal Beredar di DIY

“Capres juga mengunjungi Kyai untuk kepentingan kampanye. Bedanya, Kyai cenderung ditinggalkan begitu pemilu selesai, sementara Sultan tetap akan ditemui karena beliau gubernur,” imbuh dosen DPP Fisipol UGM ini.

Dan Sultan, menurut Bayu, selana ini cenderung netral. Itu sikap bijak Sultan yang diharapkan Rakyat Yogyakarta. (Rep-3)