Arti Danais bagi Perupa di Yogyakarta

Gelar Maestro Rindu Jogja 2014 untuk memperingati HUT Kota Yogyakarta ke-258 di kawasan titik nol KM Yogyakarta, 6 Oktober 2014. Kegiatan yang mendapatkan pendanaan dari Danais diikuti sekitar 270 Perupa. (Tria/kabarkota.com)


YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Bagi Paguyuban Seniman Imogiri, Jetis, dan Dlingo (Sidji) Bantul, adanya dana keistimewaan (Danais) menjadi peluang bagi para seniman khususnya Perupa untuk mengembangkan seni rupa di Yogyakarta.

Sayangnya, salah satu seniman dari Paguyuban Sidji Bantul, Dwi Haryanto mengaku hingga kini komunitasnya belum bisa merasakan manfaat dari kucuran dana Rp 500-an Milyar tersebut.

Loading...

"Selama ini, kami belum mendapatkan Danais untuk pengembangan di komunitas kami," ungkap Dwi kepada kabarkota.com, saat ditemui di kawasan Malioboro, baru-baru ini.

Berbeda dengan Dwi, salah seorang perupa di Yogyakarta, WM. Hendrix justru menyatakan, dirinya tidak pernah berpikir untuk mendapatkan suntikan dari danais.

"Selama ini para pelukis sudah terbiasa mandiri saat menggelar hasil karya mereka," ujar Hendrix

Meski begitu Hendrix tetap berharap, agar pengelolaan danais itu tidak disalah-gunakan oleh oknum-oknum tertentu, sehingga bisa dirasakan kemanfaatannya oleh masyarakat di Yogyakarta.

Sebelumnya, kabarkota.com memberitakan (tanggalnya lupa) bahwa salah satu anggota DPRD DIY, Eko Suwanto memperkirakan, serapan danais untuk periode 2014 ini, baru sekitar 24 persen dari total anggaran yang diserahkan pemerintah pusat ke DIY.

SUTRIYATI