Bahan Bunga Sepatu Bisa Menghasilkan Teh Nikmat

Dosen Jurusan Pendidikan Kimia, FMIPA UNY, Das Salirawati (kiri) bersama warga dan produk teh dari bunga sepatu. (Sumber foto: www.uny.ac.id)

SLEMAN – Dosen Jurusan Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dam Ilmu
Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Das
Salirawati, melakukan penelitian dengan menghasilkan sebuah teh yang
terbuat dari bunga sepatu atau yang masyarakat Jawa Tengah sebut dengan
nama kembang “wora-wari”.

Salirawati menjelaskan, teh bunga sepatu tersebut bisa dibuat dengan
cara dioven maupun disangrai. Kedua cara tersebut memberikan hasil yang
berbeda, baik tekstur, tampilan, aroma, maupun kadar zat gizi yang
terkandung di dalamnya.

Teh bunga sepatu yang dioven, kata Salirawati, memiliki tekstur lebih
halus dan aroma wangi bunga yang tercium lebih tajam, sedangkan teh
bunga sepatu yang disangrai memiliki tekstur kasar dan bau seperti teh
biasa dan teh rosella, serta bau wangi bunga sepatu tidak tercium sama
sekali.

Sementara, bunga sepatu banyak jenis dan warnanya, ada yang berkelopak
tunggal atau rangkap, dan warnanya ada yang merah tua, merah muda,
orange, dan kuning. “Teh bunga sepatu berwarna merah merupakan pilihan
terbaik, karena kita tidak perlu menambahkan zat pewarna karena sudah
menghasilkan warna persis seperti teh biasa,” kata Salirawati belum lama
ini.

Ia menambahkan, teh bunga sepatu memiliki komposisi zat-zat gizi sesuai
dengan yang dibutuhkan orang setiap hari dan lebih baik dibandingkan teh
yang biasa dikonsumsi pada umumnya. “Teh ini memiliki kadar
karbohidrat, glukosa, vitamin C, kafein, dan polifenol,” ujarnya.

Menurutnya, berdasarkan perbandingan kadar glukosa, teh bunga sepatu
termasuk teh yang kandungan glukosanya relatif tinggi sehingga dalam
pengkonsumsiannya tidak perlu menambahkan gula pasir tambahan. Kecuali,
ungkapnya, bagi mereka yang sangat menyukai rasa manis yang relatif
tinggi. Hal ini berarti, selain menghemat gula, juga sangat praktis jika
dibawa ke mana-mana tanpa perlu membawa gula.

“Polifenol memiliki sifat antioksidan lebih baik dibandingkan
vitamin-vitamin dan menjadi objek yang menarik perhatian para ahli
nutrisi, epidemiologi, perusahaan agrarian, dan konsumen pada dekade
terakhir,” ujarnya. (uny.ac.id)

Editor: Tria