Bahaya Tindakan Aborsi

BANTUL (kabarkota.com) – Tindakan aborsi bagi korban pemerkosaan sudah dilegalkan pemerintah. Hal itu termaktub pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi yang ditandatangani presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 23 Juli 2014 lalu.

Sampai hari ini (16/8/2014) pelaksanaan PP ini masih dibicarakan para ahli dari sisi etika hingga teknis kedokteran.

Dari sisi teknis pelaksanaan aborsi, dokter Anastasya Endar Widyaningsih, Kepala klinik Unala, klinik kesehatan reproduksi remaja yang terbentuk atas inisiasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menjelaskan, tindakan aborsi sangat membahayakan bagi pelaku.

Baca Juga:  UGM Tantang Sociopreneur Muda Indonesia Berkompetisi

Diantara bahaya dari aborsi, kata Anastasya, adalah kematian. "Kematian bisa terjadi apabila organ reproduksi belum kuat dan tetap melakukan aborsi maka akan memungkinkan terjadinya infeksi yang menyebabkan kematian," kata Anastasya kepada kabarkota.com melalui sambungan telepon.

Bahaya lain aborsi, lanjutnya, yakni bisa menyebabkan pendarahan. Pendarahan bisa terjadi apabila pendarahan. Pendarahan terjadi apabila aborsi dilakukan dengan mengangkat rahim dan rahim tidak bisa berkontraksi. Tindakan itu memungkinkan calon  ibu tidak tertolong.

Baca Juga:  PT Pos Indonesia buka Layanan Gratis Pengiriman Bantuan ke Lombok

Selain itu, kata Anastasya, aborsi dapat menyebabkan kemandulan. "Kemandulan terjadi jika kandungan sel telur terinfeksi akibat aborsi tidak bersih. Akibat infeksi itu membuat sel telur tidak bisa berfungsi. Itu bisa menyebabkan kemandulan," tuturnya.

Hal inilah yang menurut Anastasya harus menjadi perhatian. Dalam memberikan kosultasi kepada remaja, ia selalu menekankan agar mengedepankan aspek kesehatan.

Ia menegaskan, apabila memang ingin melakukan aborsi harus paham risiko dan dampaknya. "Keputusan jika memang mau aborsi tentu diserahkan kepada yang melakukan," kata dia.

Baca Juga:  PSKK UGM: "Menteri Kependudukan Harus Dijabat Profesional"

Namun, ia mengingatkan, meskipun dilakukan dengan bantuan tim medis dan dilakukan sesuai prosedur tidak serta merta bisa memberikan jaminan. "Seratus persen tidak bisa menjamin. Ada faktor X yang mungkin tidak kita ketahui," ungkapnya. (kim/aif)