Banyak Konsultan Asing tak Dorong Kemandirian Energi di Indonesia

Seminar Nasional tentang Optimalisasi Alokasi Gas Keperluan Domestik untuk Pengembangan Industri Nasional, di UGM, Kamis (11/2/2016). (sutriyati/kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Kehadiran konsultan asing soal energi belum tentu mendorong pada kemandirian energi di Indonesia. Hal itu seperti diungkapkan, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Tumiran, dalam Seminar tentang Optimalisasi Alokasi Gas Keperluan Domestik untuk Pengembangan Industri Nasional, di UGM, Kamis (11/2/2016).

Menurutnya, untuk mewujudkan kemandirian tersebut, semestinya sumber daya energi yang dimiliki Indonesia tidak diekspor dalam bentuk bahan mentah, melainkan diolah di dalam negeri untuk menciptakan nilai tambah lalu diekspor dalam bentuk produk jadi.

Baca Juga:  Ditemui Wakil Rakyatnya, Mahasiswa Papua di Yogya Malah Kecewa

“Infrastruktur juga harus dibangun,” kata Tumiran.

Dengan begitu, lanjutnya, bisa mengoptimalkan nilai tambah sepaya industrinya juga muncul. Pasalnya, selama ini pasokan gas dalam negeri terhitung kurang. Sementara, Indonesia termasuk delapan eksportir gas terbesar di dunia. Padahal sebenarnya,
Indonesia hanya memiliki dua persen cadangan gas dunia.

Kondisi tersebut, ucap Tumiran, berbeda dengan negara Jepang dan Korea yang tidak memiliki cadangan gas sebesar Indonesia tetapi mampu mengolahnya dengan optimal sehingga bisa mengekspor produknya ke luar negeri dengan nilai jual yang lebih tinggi.

Baca Juga:  2.8 juta Hektar Kebun Sawit Berstatus Ilegal

Pengamat ekonomi, Hendri Saparini menganggap bahwa turunnya harga minyak dunia saat ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengubah paradigma, bagaimana sumber energi yang dimiliki tidak sekedar dijadikan sebagai sumber pemasukan negara tetapi bisa digunakan untuk manfaat yang strategis.

“Kita akan gunakan untuk apa kekayaan energi kita?” Ujar Hendri. (Rep-03/Ed-03)