BBM Naik, Upah Buruh Gendong Tetap

Ilustrasi (sumber: antarafoto.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi menambah beban ekonomi yang harus ditanggung para buruh gendong perempuan di Yogyakarta.

Petugas lapangan dari LSM "Yasanti", Umi Asih mengatakan, selama ini rata-rata buruh gendong "nglajo" (tidak menginap) dari rumah menuju pasar, yang umumnya menggunakan angkutan umum.

"Sebelum kenaikan BBM diumumkan saja, tarif angkutannya sudah naik," kata Asih saat dihubungi kabarkota.com melalui sambungan telepon, Senin (24/11).

Baca Juga:  Jadwal Pemadaman Listrik di DIY per 14 Maret 2019

Padahal, kata dia, hingga saat ini, para buruh gendong tidak mendapatkan kenaikan upah dari para pengguna jasa mereka, meski kenaikan harga BBM sebesar Rp 2 ribu per liter telah diberlakukan.

Asih menyebutkan, tarif buruh gendong yang diterima dari para pengguna jasa biasanya antara Rp 1.000 – Rp 3.000. Padahal, resiko saat membawa barang bawaan, terlebih saat musim penghujan seperti sekarang sangat membahayakan bagi mereka.

"Kalau jalannya licin dan mereka terpeleset kemudian keseleo, mereka harus berobat dengan biaya sendiri," ungkapnya.

Baca Juga:  Front Independent Driver Online Indonesia Minta Penangguhan angsuran Kredit tanpa Syarat

Oleh karenanya Asih berharap, agar pemerintah bisa memberikan kompensasi berupa jaminan kesehatan bagi para buruh gendong, baik dari Yogyakarta maupun luar kota yang berada di pasar-pasat tradisional.(Baca juga: UMKM DIY Butuh Kompensasi Kemudahan Akses Dana pasca Kenaikan BBM)

Selain itu Yasanti juga menyatakan, akan segera melakukan advokasi untuk menguatkan posisi tawar para buruh gendong sehingga bisa menaikkan tarifnya minimal Rp 5.000.

Baca Juga:  Indonesia Diambang Krisis Pangan?

"Kami tidak mempunyai kewenangan untuk mendesak para pengguna jasa buruh gendong," sesal Asih.

Menurutnya, jumlah buruh gendong perempuan di Pasar Beringharjo Yogyakarta sebanyak 150 orang, di Pasar Giwangan 135 orang, di pasar Gamping, Sleman 33 orang, dan di Pasar Kranggan, Yogyakarta 11 orang.

SUTRIYATI