Begini Cerita Menegangkan Warga Yogya di Lombok pasca Gempa Besar

Kondisi sejumlah tamu salah satu hotel di pusat kota Mataram NTB, yang terpaksa bermalam di luar gedung, pasca gempa besar di Lombok, Minggu (5/8/2018) malam. (dok. istimewa)

MATARAM (kabarkota.com) – Bencana alam, gempa bumi berkekuatan 7 Skala Richter (SR) yang mengguncang wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (5/8/2018) petang, menjadi cerita tersendiri bagi salah satu warga Yogyakarta, Noor Harsya Aryo Samudro yang tengah berada di pusat kota Mataram, NTB.

Kepada kabarkota.com Harsya mengaku, dirinya yang merupakan komisioner Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Yogyakarta, bersama salah satu komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) kota Yogyakarta, dan dua orang staff tiba di Lombok, pada Minggu (5/8/2018) malam, sekitar pukul 19.30 WIB. Kedatangan mereka di pulau tersebut, untuk melaksanakan tugas kepemiluan selama beberapa hari ke depan.

Harsya bercerita bahwa ketika tiba di Lombok usai mendarat, situasi di bandara Internasional Lombok sangat kacau. sekitar 1.500 orang dievakuasi di luar gedung kompleks bandara. Sementara transportasi umum, seperti taksi dan ojek online juga tidak ada yang beroperasi. Selain itu, saluran listrik juga sempat dipadamkan.

“Awalnya kami tidak tahu kalau habis terjadi gempa besar. Hanya melihat kerumunan orang di sana,” kata Harsya saat dihubungi kabarkota.com, Senin (6/8/2018).

Beruntung karena malam itu masih ada satu transportasi umum yang beroperasi hingga ia bersama rombongan medapat tumpangan untuk bisa sampai di hotel tempat mereka akan menginap. “Dari bandara ke hotel jaraknya 40-an km. Tapi karena kondisi jalan macet di mana-mana, sehingga sampai di hotel kurang lebih satu jam,” imbuhnya.

Setibanya di salah satu hotel yang terletak di pusat kota Mataram, menurut Harsya, para tamu tidak diijinkan masuk ke gedung, karena kondisinya yang masih sangat rawan. Terlebih, tiap 30 menit terjadi gempa susulan.

“Akhirnya kami bersama ratusan tamu lainnya tidur di halaman parkir,” ungkap Harsya.

Menurutnya, kondisi gedung tempatnya menginap relatif aman, meskipun ada kerusakan ringan. Sedikitnya empat orang tamu hotel juga mengalami luka ringan. Hanya saja, hampir setiap 30 menit, ambulans membawa korban, lalu-lalang di jalan utama kota Mataram.

Ambulan sejak Minggun (5/8/2018) malam hampir setiap 30 menit sekali masuk ke Jalan Utama Mataram menuju RS Mataram. (Dok. Istimewa)

Ia menduga, banyak penduduk setempat yang menjadi korban dan rumah-rumah mereka juga mengalami kerusakan, terutama pada bangunan-bangunan yang tak tahan gempa.

“Peristiwa ini dan gempa besar yang terjadi di Yogyakarta 27 Mei 2006 lalu menjadi pembelajaran bagi saya, terkait mitigasi bencana. Saya harus siap siaga dan membangun kewaspadaan setiap kali terjadi bencana,” tegasnya.

Sementara, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, hingga Senin, pukul 02.30 WIB dini hari tadi jumlah korban meninggal dunia sebanyak 82 orang, ratusan orang lainnya mengalami luka-luka, dan ribuan warga juga masih mengungsi.

Korban yang meninggal dunia berasal dari Kabupaten Lombok Utara 65 orang, Lombok Barat 9 orang, Lombok Tengah 2 orang, Kota Mataram 4 orang, dan Lombok Timur 2 orang. Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh.

Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, lanjut Sutopo, daerah dengan kondisi terparah adalah Kabupaten Lombok Utara, Lombok Timur dan Kota Mataram.

“Di saat penanganan darurat dampak gempa 6,4 SR masih berlangsung, terutama di Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur, tiba-tiba masyarakat diguncang gempa dengan kekuatan yang lebih besar. Masyarakat panik dan berhamburan di jalan-jalan dan bangunan dan rumah yang sebelumnya sudah rusak akibat gempa sebelumnya menjadi lebih rusak dan roboh. Apalagi ada peringatan dini tsunami menyebabkan masyarakat makin panik dan trauma sehingga pengungsian di banyak tempat,” kata Sutopo dilansir dari laman BNPB, Senin (6/8/2018)

Karena kondisi bangunan yang rusak, korban luka-luka banyak yang dirawat di luar puskesmas. Selain itu, gempa susulan terus berlangsung. Hingga 5/8/2018 pukul 24.00 WIB terjadi 80 kali gempa susulan dengan intensitas gempa yang lebih kecil.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa gempa 7 SR tadi adalah gempa utama (main shock) dari rangkaian gempa sebelumnya. Artinya kecil kemungkinan akan terjadi gempa susulan dengan kekuatan yang lebih besar.

Sedangkan Kepala BNPB, Willem Rampangilei bersama jajaran BNPB juga telah tiba di Lombok Utara, dengan menggunakan pesawat khusus dari Bandara Halim Perdanakusuma. Tambahan bantuan logistik dan peralatan segera dikirimkan. Termasuk, dua helikopter untuk mendukung penanganan darurat dikirimkan. TNI dijadwalkan untuk memberangkatkan tambahan pasukan dan bantuan, khususnya bantuan kesehatan yaitu tenaga medis, obat-obatan, logistik, tenda dan alat komunikasi pada Senin pagi.

Sutopo menambahkan, fokus utama saat ini adalah pencarian, penyelamatan dan pertolongan kepada masyarakat yang terdampak gempa serta pemenuhan kebutuhan dasar yang mendesak, seperti tenaga medis, air bersih, permakanan, selimut, tikar, tenda, makanan siap saji, layanan trauma healing dan kebutuhan dasar lainnya.

Kegiatan belajar mengajar di sekolah di wilayah Lombok Utara, Lombok Timur, dan Mataram akan diliburkan pada 6 Agustus 2018, karena dikhawatirkan bangunan sekolah membahayakan siswa. Sembari petugas melakukan pengecekan gedung. (sutriyati)