Di Belanda, Presiden Jokowi Teken 4 Kesepakatan Bisnis

Ilustrasi (liputan6.com)

JAKARTA (kabarkota.com) – Lawatan Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) beserta rombongan di Belanda membuahkan empat kesepakatan bisnis senilai 606 Dolar AS.

Keempat kesepakatan yang diteken Presiden yang dimaksud adalah, Kesepakatan Pembangunan Pabrik Pembuatan Solar Panel di Surabaya, Kesepakatan Pengembangan Industri Benih Kentang Unggulan untuk Meningkatkan Produksi dan Suplai Kentang dalam Negeri sekaligus Meningkatkan Kesejahtetaan Petani Kentang Indonesia, kesepakatan Pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah dan Turbin Pembangkit Listrik Arus di Larantuka-NTT, serta Kesepakatan Pengembangan SDM di bidang Kemaritiman. (TKP/RAH)

Dalam Pidatonya di Forum Bisnis Indonesia – Belanda di Den Haag tersebut, Presiden mengungkapkan di tengah goncangan yang melanda dunia yang mengakibatkan hampir seluruh pasar kapital dunia mengalami kejatuhan serta pasar minyak mentah terganggu, Indonesia menunjukkan ketahanannya melalui pertumbuhan ekonomi yang justru mengejutkan.

Menurutnya, hal itu dibuktikan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh mencapai 5,03% di kwartal ke-4 tahun 2015. Pertumbuhan ekonomi tersebut tercapai karena Indonesia memiliki dua mesin pertumbuhan, pembangunan infrastruktur dan investasi.

Terkait dengan dengan investasi, Presiden mengungkapkan pemerintah terus melakukan perbaikan agar proses perizinan dapat dipersingkat dan kemudahan berusaha dapat ditingkatkan.

Untuk itu, pihaknya juga mengundang para pengusaha Belanda berinvestasi di Indonesia. Mengingat, Belanda merupakan kawan terlama dan pendukung terkuat Indonesia di Uni Eropa.

Berdasarkan rilis Asian Development Bank (ADB), lanjut Jokowi, Indonesia memiliki daya tarik investasi dan minat untuk investasi di Indonesia saat ini berada pada titik tertinggi sepanjang sejarah.

Di tengah masa transisi di Cina, ungkap Presiden, banyak perusahaan merelokasi pabriknya dari Cina ke negara-negara di Asia Tenggara.

“Dan tentu saja Indonesia juga akan mendapatkan porsi yang cukup, terutama karena Indonesia adalah ekonomi terbesar di Asia Tenggara”, ujar Presiden, seperti dikutip laman Setkab, Sabtu (23/4/2016). (Rep-03/Ed-03)