Bentrok Antar Suporter Berulang, Bagaimana Mengatasinya?

Ilustrasi (dok. istimewa)

SLEMAN (kabarkota.com) – Bentrokan antar suporter memang bukan persoalan baru yang terjadi dalam dunia persepak-bolaan, termasuk di Yogyakarta. Peristiwa yang terjadi di jalan Wonosari Yogyakarta, Minggu (8/5/2017) petang lalu adalah salah satunya.

Ungkapan keprihatinan pun terucap dari banyak pihak. Bebagai upaya juga telah ditempuh untuk mengatasi persoalan tersebut. Namun, apa yang membuatnya seolah terus berulang?

“Saya tidak tahu pasti apa yang memicu kerusuhan (antar suporter), tapi fanatisme semestinya tidak ditunjukkan dengan kekerasan, melainkan fanatisme yang positif, yang mendukung untuk tim bermain sportif,” kata Bupati Sleman, Sri Purnomo yang juga selaku pembina Perserikatan Sepak bola Sleman (PSS).

Kapolda DIY, Ahmad Dofiri yang baru-baru ini ditemui wartawan, menilai bahwa bentrokan antar suporter itu cermin dari ketidak-disiplinan dan ketidak-sportivan dalam pelaksanaan sepak bola.

Sementara wakil ketua DPRD Sleman, Sofyan Setyo Darmawan juga turut berpendapat bahwa salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk mengatasi konflik suporter agar tak berulang adalah dengan mendudukan bersama berbagai pihak, serta melakukan pengawalan bersama dengan aparat keamanan, utamanya saat pertandingan maupun setelahnya.

“Masing-masing pimpinan harus ada di lapangan untuk melakukan upaya-upaya antisipasi agar tidak terjadi tindakan yang meresahkan,” kata Sofyan saat ditemui kabarkota.com, baru-baru ini.

Sejalan dengan itu, pada 10 Mei 2017 lalu, Polda DIY mengundang manajemen klub, panitia pelaksana, suporter klub yang terdiri dari Slemania, Brigata Curva Sud, (BCS), Brajamusti, Mataram Independent (Maident), Paserbumi, Curva Nord Famiglia (CNG) yang pada intinya meminta komitmen bersama agar pelaksanaan Pertandingan Sepak bola Liga 2 Indonesia Tahun 2017 di DIY bisa berjalan tertib dan kondusif, pasca kisruh suporter di Jalan Wonosari, 8 Mei 2017.

Dalam pertemuan tersebut, pada intinya, ketiga belah pihak akan menjaga sportivitas dalam pertandingan, serta menjaga situasi ager tetap kondusif.

“Apabila terjadi permasalahan yang mengakibatkan kerugian fisik maupun material yang disebabkan oleh suporter sepak bola, maka dari pihak manajemen klub, panitia pelaksana, dan ketua suporter sanggup mengganti kerugian tersebut,” tulisnya dalam pernyataan sikap yang ditandatangani oleh masing-masing perwakilan. (Rep-03/Ed-03)