Berdebat Di Medis Sosial Ternyata Bisa Berdampak Buruk Bagi Kesehatan

Debat di Media Sosial Bisa Bikin Anda Stres (Pathdoc/Shutterstock)
Debat di Media Sosial Bisa Bikin Anda Stres (Pathdoc/Shutterstock)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Indonesia termasuk salah satu dari negara dengan pengguna media sosial yang paling besar di dunia. Namun ternyata, banyak pengguna media sosial ini menggunakannya untuk hal-hal yang gak perlu dilakukan.

Salah satunya adalah berdebat kusir yang gak ada habisnya salahsatunya tentang politik.

Memang tak adala larangan sih kalau berdebat di sosial media, kamu bisa menyampaikan aspirasi atau pendapat kamu kepada orang lain.

Tapi yang disayangkan, saat ini banyak ditemukan adalah debat kusir yang gak kunjung henti, alias gak menemui titik masalah atau titik terangnya. Apalagi sebagai pengguna sosial media, yang gak mau menghargai perbedaan pendapat masing-masing.

Perdebatan yang sering terjadi antar pengguna, seakan-akan telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari media sosial. Sebagai salah satu penggunanya, kamu pun mungkin pernah melakukannya.

Tapi tahukah kamu, berdebat di dunia maya bisa memberi dampak negatif karena dapat mengganggu kesehatan mental?

Jadi gunakanlah media sosial secara bijak dan hindarkan diri dari akibat buruknya. Berbagai hal dapat menjadi alasan seseorang mulai berdebat di media sosial.

Rasa kebebasan yang didapatkan dan kekuatan menjadi seorang anonim, membangun sebuah identitas di dunia maya, hingga sebatas rasa bosan, menjadikan perdebatan di sosial media seolah menarik untuk dicoba.

Namun, perdebatan yang kamu jalani, meski di dunia maya, dapat memengaruhi kesehatan mental di dunia nyata.

Sebagian besar orang yang pernah berdebat di media sosial, menyebut frustrasi sebagai reaksi emosional yang paling banyak dirasakan.

Sementara itu, pengguna lainnya menyebut perasaan sedih sebagai reaksi yang muncul, ketika lawan bicara di media sosial menyalahartikan tulisan mereka. Reaksi emosional lain yang juga kerap muncul saat berdebat di media sosial adalah marah.

Hanya sebagian kecil dari orang yang pernah berdebat di media sosial menyebutkan rasa bangga dan senang. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa perdebatan di dunia maya bukanlah sesuatu yang menyenangkan, maupun baik untuk dilakukan.

Berdebat di media sosial juga berpotensi memberikan pengaruh terhadap kesehatan mental, berupa : Stres Depresi Gangguan kecemasan Keinginan bunuh diri Kambuhnya kondisi kesehatan mental yang telah dialami sebelumnya

Tidak semua orang yang kamu temui di media sosial memiliki kepribadian maupun tujuan yang serupa denganmu. Tidak jarang, kemampuan anonim yang bisa didapatkan di Internet, menjadi tameng bagi orang-orang tertentu untuk mengeluarkan pendapat yang tidak pada tempatnya, serta memancing argumen yang tidak berkesudahan.

Orang-orang tersebut dikenal dengan istilah trolls. Strategi terbaik untuk menghadapinya adalah dengan tidak menghiraukannya. Trolls menciptakan suatu perdebatan atau argumen, bukan dengan tujuan mencapai mufakat.

Justru, perilaku tersebut muncul karena orang tersebut merasa bahwa pendapat merekalah yang paling benar dan tidak bisa dibantah.

Metode sederhana lain yang dapat kamu lakukan dalam menghadapi perilaku tersebut adalah dengan mengajukan pertanyaan yang mengandung kritik.

Beberapa pertanyaan yang bisa diajukan di antaranya: “Bisa berikan alasan kenapa kamu percaya dengan hal tersebut?” “Bagaimana menurut pendapat ahli yang lain?” “Apakah menurut kamu pendapat tersebut dapat mewakili orang banyak?”

Satu hal yang perlu diingat, perlakukan lawan bicara di dunia maya sama seperti memperlakukan kerabat di dunia nyata. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, maka jalan terbaik adalah untuk tidak menghiraukannya.

Dampak negatif media sosial telah banyak menyerang penggunanya. Demi menjaga kesehatan mental, sebaiknya kamu mulai mengurangi frekuensi berselancar di dunia maya dan lebih bijak dalam menghadapi ajakan untuk berdebat di media sosial. (Ar-01)