Calcusol, Obat Batu Ginjal Alami “Warisan” Prof. Dr. Sardjito

Dua cucu almarhum Prof. Dr. Sardjito, Alita P. Damar (kanan) dan Dyani Poedjioetomo (kiri) menunjukkan membawa produk calcusol “warisan” eyangnya. (dok. istimewa)

JAKARTA (kabarkota.com) – Siapa tak pernah mendengar nama Prof. Dr. Sardjito? Sesosok pahlawan Nasional yang namanya diabadikan untuk nama salah satu Rumah Sakit terbesar di Yogyakarta.

Meski namanya dikenal khalayak luas, namun tak banyak yang mengetahui bahwa kecintaannya kepada istri telah mendorong Sardjito menghasilkan produk obat batu ginjal alami yang diberi nama Calcusol.

Baca Juga:  UUK DIY Kembalikan Status Kepemilikan Tanah Kasultanan dan Kadipaten

Cucu pertama almarhum Sardjito, Alita P. Damar menceritakan, awalnya sang kakek yang ia panggil bapak itu kebingungan mencari obat untuk istrinya yang sering mengalami sakit luar biasa akibat batu ginjal.

“Jadi eyang kakung (kakek) mencari solusi, dengan mulai meneliti bahan alami yang mudah didapat (Tahun 1960-an). Akhirnya menemukan daun Tempuyung yang ternyata bisa meluruhkan batu ginjal dengan halus sampai tuntas,” jelas Alita saat dihubungi kabarkota.com, Selasa (11/2/2020) malam.

Baca Juga:  Ini Alasan Muhammadiyah Keluarkan Fatwa Haram Vape

Menurutnya, penemuan tersebut awalnya berbentuk jamu rebusan. Namun, pada akhirnya Rektor pertama di UGM tersebut diundang ke Paris untuk melanjutkan penelitiannya hingga berhasil mengembangkan resepnya menjadi berbentuk kapsul.

“Malah bapak (Sardjito) ditawari royalti karena resepnya mau dibeli oleh laboratorium di Paris, tapi ditolak dengan alasan jamunya nanti jadi mahal, padahal banyak yang membutuhkan,” jelasnya.

Hingga kini, lanjut Alita, sudah banyak konsumen yang sakitnya sembuh tanpa melalui melalui operasi, setelah mengkonsumsi Calcusol. Selain melayani konsumen dari berbagai daerah di Indonesia, produk tersebut juga dikenalkan ke sejumlah Negara.

Baca Juga:  BPJS, Kebijakan yang Dinilai Mencekik Diri

“Kami pernah ikut pameran di Jordan dan Maroko, dan Calcusolnya ludes diborong pengunjung,” kenang Alita.

Sementara cucu kedua almarhum Sardjito, Dyani Poedjioetomo menambahkan, kini setiap bulan, pihaknya memproduksi sedikitnya 10 ribu botol Calcisol dengan berbagai ukuran, dengan harga kisaran Rp 41.500 hingga Rp 133.000 per botol. (Rep-02)