Cerita Mengerikan dari Saksi Mata Gempa Besar di Sulteng

Ilustrasi (dok. @bnpb_indonesia)

SIGI (kabarkota.com) – Hari Jumat Petang, tanggal 28 September 2018, pukul 18.02 WITA menjadi hari paling mengerikan bagi Nurul Hidayati. Perempuan asal Klaten, Jawa Tengah (Jateng) ini menjadi salah satu saksi mata kedasyatan gempa bumi berkekuatan 7.4 Scala Richter (SR) di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Hida, begitu perempuan 32 tahun ini akrab disapa. Saat itu, Ia bersama satu temannya dalam perjalanan pulang dari tempat kerjanya. Sejak tiga tahun terakhir, ia mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Panti Sosial Bina Grahita Nipotowe Palu, milik Kementerian Sosial.

“Ketika itu, kami tengah mengendarai sepeda motor berboncengan. Tiba-tiba jalan seperti amblas sehingga kami terjatuh. Saya tertimpa motor. Kami tak sadar kalau itu ternyata gempa besar, kami menyangkanya ban motor kami pecah. Tapi motor-motor lain yang kebetulan melintas juga berjatuhan. Kemudian kami melihat pepohonan bergoyang cepat seperti diterpa badai dan pagar-pagar di pinggir jalan bergerak-gerak seperti akan menimpa kami, lalu kami diminta bergeser oleh warga yang juga ada di situ” kenangnya, saat dihubungi kabarkota.com, baru-baru ini.

Setelah guncangan mereda, mereka kemudian melanjutkan perjalannya. Di sepanjang jalan, ia melihat situasi sudah sangat kacau, bangunan-bangunan rusak dan sebagian roboh. Hida tinggal di kompleks perumahan Banoa Asri, Kaluku Bula, Kabupaten Sigi, Sulteng. Meski bukan di pusat gempa, tapi jaraknya dengan Perumahan Balaroa di Petobo yang menjadi titik pusat gempa, tak terlalu jauh.

Hingga malam tiba, di tengah gelapnya malam di tenda pengunsian tanpa penerangan listrik dan sambungan telekomunikasi sama sekali, gempa-gempa susulan terus terjadi. “Saat itulah tangis kami pecah,” ucapnya. Apalagi, ada salah satu temannya yang tengah memiliki bayi.

H+2 Bencana, Bertahan tanpa Bantuan Logistik dan Relawan

(dok.istimewa)

Setelah gempa besar dan tsunami yang melanda sekitarnya, kabupaten Sigi menjadi salah satu wilayah yang terisolir. Bantuan logistik dan relawan baru bisa masuk, setelah H+2 bencana.

Meski begitu, sebagai abdi negara apalagi mengurusi 30 anak penyandang disabilitas, satu hari setelah gempa terjadi, Hida tetap menjalankan tugasnya di panti sosial. Beruntung karena bangunan panti tak mengalami kerusakan parah, sehingga masih layak huni. Sementara sebagian teman lainnya memilih keluar dari Palu.

“Saya belum kepikiran meninggalkan Palu, karena mengingat anak-anak di Panti, nanti siapa yang mengurusi mereka kalau semua pergi?” imbuhnya.

Meski ia tak memungkiri masih sangat trauma dan takut gempa besar terjadi lagi. Terlebih, sebelumnyan Hida juga pernah merasakan, saat gempa 5.7 SR mengguncang DIY dan Jateng, 27 Mei 2006 silam.

Penjarahan sempat Terjadi

Sementara terkait penjarahan, ia memgaku juga sempat melihat di beberapa toko swalayan kecil. Menurutnya, yang diambil warga kebanyakan makanan, minuman, dan berbagai kebutuhan sehari-hari lainnya, termasuk susu bayi.

Ia bisa memahami, karena situasi saat itu, bantuan belum ada yang masuk sama sekali dan toko-toko masih tutup, sehingga warga mulai lapar dan kehabisan stok makanan serta kebutuhan sehari-hari.

“Mingkin karena mereka kepepet (terdesak kebutuhan),” anggapnya. (sutriyati)