Corona Mengkhawatirkan, Aksi K@MU untuk Udin Ditiadakan

Aksi 16-an AJI Yogyakarta dan K@MU di depan halaman Gedung Agung Yogyakarta (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta bersama Koalisi Masyarakat untuk Udin (K@MU) meniadakan sementara aksi rutin menuntut negara bertanggung jawab terhadap pembunuhan jurnalis Harian Bernas Yogyakarta, Fuad Muhammad Syafruddin.

Aktivis K@MU, Tri Wahyu KH mengatakan, peniadaan sementara aksi tersebut demi menjaga keselamatan di tengah kekhawatiran terhadap penyebaran Coronavirus Desease 2019 (Covid-19). Terlebih, di Yogyakarta terdapat satu pasien yang dinyatakan positif Covid-19.

Sebelumnya, AJI Yogyakarta dan K@MU selalu menggelar aksi diam setiap bulan pada tanggal 16 di depan Gedung Agung Yogyakarta. Lokasi ini dipilih karena menjadi titik lalu lalang banyak orang.

Baca Juga:  Diberhentikan Sepihak, Pekerja Media Bernas Ziarah ke Makam Udin

Dalam aksi rutin yang digelar sejak lima tahun ini, AJI Yogyakarta bersama K@MU melakukan aksi tutup mulut sebagai protes, dan tuntutan terhadap negara yang tak segera menuntaskan kasus Udin.

“Kami menolak penghentiaan penyelesaian kasus pembunuhan Udin yang berjalan selama 23 tahun,” tegas Tri Wahyu dalam siaran pers yang diterima kabarkota.com, Senin (16/3/2020).

Menurutnya, Udin menjadi simbol perlawanan terhadap korupsi. Kematian Udin diduga kuat berhubungan dengan tulisan-tulisannya yang kritis, yakni korupsi megaproyek Parangtritis. Menjelang pemilihan bupati baru di tahun itu, Udin menulis upaya Bupati Bantul Sri Roso Sudarmo memberikan upeti Rp 1 miliar kepada Yayasan Dharmais pimpinan Presiden Suharto. Tujuannya agar Sri Roso kembali menjadi bupati Bantul.

Baca Juga:  Bukan Lockdown, Ini Solusi Pemkot Yogya Cegah Penularan Corona

“Pembunuhan jurnalis Udin yang tidak terungkap menjadi catatan buruk hukum pidana dan utang kepolisian Indonesia,” anggapnya.

Sementara, Ketua AJI Yogyakarta, Shinta Maharani menganggap, pembunuhan terhadap Udin merusak kebebasan pers dan mengganggu kebebasan publik memperoleh informasi.

Shinta berpendapat bahwa setiap wartawan berhak untuk bekerja tanpa rasa takut. Sebab, mereka memperjuangkan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang benar.

“Jika wartawan bekerja dalam suasana ketakutan di bawah ancaman militer, aparat, dan preman, maka masyarakat tidak akan mendapatkan informasi yang baik,” tegasnya.

Untuk itu pihaknya mendesak adanya penyelesaian hukum atas kasus kekerasan yang menimpa wartawan dan melampaui batas antar-negara tersebut.

Baca Juga:  "Ra Sudi Nompo Duitmu"

“Kami ingin pemerintah Presiden Jokowi menyelesaikan kasus ini dengan menangkap otak dari pembunuhan beserta semua yang terlibat,” pintanya.

Selain aksi 16-an, setiap tahun, AJI Yogyakarta dan K@MU juga menggelar serangkaian acara untuk mengenang Udin melalui diskusi publik dan ziarah ke makam Udin bersama Marsiyem. Pihanya juga melibatkan aktivis pro-demokrasi, seniman independen, dan tokoh untuk menyuarakan penuntasan kasus pembunuhan Udin. (Ed-01)