Creatormuda Academy ajak Pelajar DIY Tangkal Konten Bernuansa Intoleransi di Media Sosial

Kegiatan Creatormuda Academy di Sleman, Jumat (29/3/2019). (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Intoleransi menjadi persoalan yang cukup meresahkan karena tak jarang berujung pada konflik kekerasan antar individu maupun golongan.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi, utamanya sejak kehadiran media sosial yang menjangkau hampir semua lapisan masyarakat, termasuk kalangan pelajar membuat konten-konten bernuansa intoleransi semakin mudah menyebar di kalangan masyarakat, tanpa terkontrol.

Salah satu buktinya adalah ketika kasus penembakan jamaah salat jumat di Christchurch, Selandia Baru, baru-baru ini, yang disiarkan langsung oleh pelaku melalui media sosial.

Kondisi tersebut mengundang keprihatinan banyak pihak, sehingga menggerakkan mereka untuk mengkampanyekan berbagai gerakan untuk menangkal konten-konten negatif bernuansa intoleransi maupun hoaks di media sosial.

Founder sabangmerauke.id, Ayu Kartika Dewi mengatakan, untuk menangkal berbagai konten negatif tersebut, maka seseorang perlu memiliki critical thinking (pemikiran kritis) sehingga tak mudah terpengaruh dengan postingan-postingan di media sosial yang belum jelas kebenarannya. Selain itu juga memiliki rasa empati, dengan saling mengasihi dan meyayangi orang-orang yang berbeda dengan dirinya.

“Bikin acara-acara yang melibatkan teman-teman yang agamanya berbeda-beda,” kata Ayu di hadapan ratusan siswa SMA/SMK se-DIY dalam kegiatan “Creatormuda Academy”, di Sleman, Jumat (29/3/2019).

Hal lain yang juga bisa dilakukan untuk menjaga toleransi adalah dengan membagikan berita-berita positif di berbagai saluran media sosial, sehingga lebih banyak dijangkau pembaca, serta membagikan konten-konten positif lainnya yang menggambarkan indahnya perbedaan.

Sementara Khelmy K. Pribadi selaku Direktur Program Ma’arif Institute  for Culture and Humanity berpendapat bahwa toleransi itu tidak cukup hanya sekedar dipelajari, melainkan harus dipraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kalau toleransi hanya berhenti sebagai slogan saja, maka lupakan soal perdamaian,” tegasnya.

Ketika berhadapan dengan teman yang berbeda pendapat misalnya, maka Khalmy menyarankan, agar teman tersebut tidak dijauhi, tapi justru dirangkul dan jika memungkinkan diajak berkunjung ke tempat-tempat yang bisa mengajarkan tentang pentingnya menjaga toleransi antarsesama.

Zaidan, salah satu peserta dari Muallimin Yogyakarta menilai, kegiatan semacam ini bagus digelar sebagai pelajaran bagi para siswa, terlebih di tengah banyaknya kasus-kasus intoleransi yang terpampang di media sosial dan banyak diakses oleh kalangan pelajar.

Dirinya juga berharap, ke depan, pelajaran tentang Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila (P4) yang dulu pernah diterapkan di dunia pendidikan semasa Orde Baru bisa diajarkan kembali karena baginya pelajaran tentang Pendidikan Moral Pancasila (PMP) saja masih belum cukup, terlebih dengan singkatnya jam pelajaran untuk mata pelajaran tersebut di kelas. (Rep-01)