Cuaca Panas di Yogya, Petani Mulai Kekurangan Pasokan Air Irigasi

Ilustrasi (dok.twitter)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Cuaca panas tanpa hujan yang terjadi di Yogyakarta beberapa hari terakhir ini mengakibatkan petani khususnya di wilayah Desa Argosari, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, DIY mulai kesulitan mendapatkan pasokan air irigasi. Hal itu karena debit air di selokan-selokan tak lagi mencukupi.

Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Argosari, Suratiman mengatakan, luasan sawah produktif di wilayahnya saat ini mencapai sekitar 198 hektar yang rata-rata tengag ditanami padi

“Kira-kira ada 20 hektar yang sekarang kekurangan air,” ungkap Suratiman saat dihubungi kabarkota.com, Selasa (21/1/2020).

Baca Juga:  Indonesia Dinilai Memiliki Modal untuk Melakukan Transformasi Sosial

Meskipun pengairan sudah diatur di masing-masing kelompok tani, namun menurutnya, air tidak terjangkau di area tersebut. Padahal, sebagian tanaman padi, baru berusia 1-3 minggu. Sementara sebagian lainnya tengah dalam pengerjaan untuk persiapan tanam padi.

“Pengaruhnya, tanaman padi jadi kering akhirnya tidak bisa panen,” jelasnya.

Namun demikian, Suratiman mengaku, petani tak bisa berbuat banyak, selain menunggu turunnya hujan di wilayahnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY, Reni Kraningtyas menjelaskan, cuaca panas yang terjadi itu karena adanya angin divergen yang bertiup di wilayah DIY.

Baca Juga:  Jadwal Listrik Padam di DIY 30 Oktober 2018

Reni menjelaskan, angin divergen atau beraian angin adalah angin yang menyebar ini terjadi karena adanya pengurangan masa udara yang disebabkan adanya arus udara horizontal dari suatu daerah, dan daerah tersebut berada di perairan sebelah selatan Jawa, di mana sekarang ini terlihat adanya daerah tekanan tinggi (hight pressure).

Hight pressure ini yang menyebabkan angin divergen bertiup di sekitar DIY sehingga cuaca cenderung cerah,” paparnya.

Sedangkan di Jakarta dan daerah-daerah lain, lanjut Reni, berpotensi hujan. Mengingat, saat ini nampak adanya pusaran angin (Edy) di perairan sebelah barat Sumatera dan perairan sebelah barat dari Jawa barat.

Baca Juga:  Saat Forum Ilmuwan Indonesia Mengkritisi Nawacita

“Edy ini tempat mengumpulnya angin dan banyak membawa massa uap air sehinggq mengakibatkan berpotensi hujan,” imbuhnya.

Terkait dengan Teknologi Mofifikasi Cuaca (TMC) yang sempat diterapkan pemerintah untuk pengalihan hujan di wilayah Jabodetabek pasca banjir besar awal Januari lalu, menurut Reni, tak terkait dengan cuaca panas yang terjadi di DIY saat ini.

“TMC di Yogya juga sudah selesai awal Januari lalu,” tegasnya. (Rep-01)