Diduga Terbujuk Organisasi Terlarang, Orang-orang ini Menghilang dari Rumah

Ilustrasi: Adi Riawan (kiri), Ayu (tengah), dan Rica (kanan)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Tak pernah terpikirkan oleh sejumlah keluarga ini, jika akhirnya mereka akan kehilangan orang-orang yang dicintainya secara misterius. Terlebih, keluarga merasa tak pernah ada permasalahan di antara mereka, sebelum yang bersangkutan pergi tanpa jejak.

Hanya saja, mereka mensinyalir bahwa kepergian anggota keluarganya yang tanpa jejak itu ada keterkaitannya dengan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang telah dinyatakan sebagai organisasi terlarang pada tahun 2015 lalu.

Berdasarkan penelusuran tim kabarkota.com, setidaknya ada tiga keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, dengan modus yang hampir sama, sejak 1-3 bulan lalu.

Sejak awal November 2015 lalu, keluarga Siti Sugiarti di Magelan Jawa Tengah, kehilangan kontak dengan putranya, Adi Kurniawan yang mengaku bekerja di Jakarta, sejak tiga bulan lalu.

Menurut Siti, peristiwa bermula ketika pada 3 Oktober 2015 lalu berpamitan pergi ke Ibu Kota untuk mencari pekerjaan, setelah dua tahun lulus dari Akindo Yogyakarta. Tanpa menaruh kecurigaan, Siti melepas putranya tersebut dengan memberikan uang saku sekitar Rp 16 juta sebagai bekal hidup selama belum memperoleh pekerjaan.

Baca Juga:  Mahasiswa UGM Ciptakan Aplikasi untuk Perempuan Korban Kekerasan

“Bulan Oktober itu kami masih kontak-kontakan, saya sempat ditelp kalau dia sedang dalam perjalanan menuju tempat kerjanya, tapi saya tidak tahu kerjanya di mana, hanya tahunya di perusahaan swasta,” kata Siti saat dihubungi kabarkota.com, baru-baru ini.

Kecurigaan keluarga baru muncul ketika bulan November nomer ponsel Adi sudah tidak aktif lagi hingga sekarang, keluarga masih kehilangan jejak putra tercintanya.

Ditambahkan Siti, sekitar enam bulan sebelum kepergian Adi, pemuda kelahiran tahun 1988 tersebut sempat bercerita bahwa dirinya mengikuti kegiatan Gafatar yang bergerak di bidang sosial, seperti menggelar donor darah, dan penghijauan di kawasan Merapi.

“Bahkan saya sempat diajak tapi karena saya sudah tua, saya menolaknya,” ungkap Siti. Namun sejak bergabung dengan ormas tersebut, lanjutnya, Adi yang sebelumnya anak yang penurut berubah menjadi arogan.
 
Lebih lanjut Siti menambahkan, Kecurigaan atas kepergian Adi yang ada sangkut pautnya dengan Gafatar semakin menguat, ketika sebelumnya putra sulungnya yang membudidayakan tanaman hidroponik di rumah sering kedatangan tamu yang diduga sesama anggota Gafatar.

Gafatar merupakan ormas yang dideklarasikan pada 21 Januari 2011 lalu, dan diketuai oleh Mahful T. Tumanurung dan bergerak di bidang sosial, serta konsens terhadap isu ketahanan pangan. Namun, Gafatar yang sebenarnya pengganti dari komunitas Millah Abraham yang juga penjelmaan dari Al Qiyadah al Islamiyah pimpinan ‘Nabi palsu’ Ahmad Musadeq itu dinyatakan sesat oleh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, pada 21 Januari 2015 dan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku Utara, pada 27 Maret 2015.

Baca Juga:  Polisi Jelaskan soal Rekaman CCTV Pelaku Pelemparan Molotov di Sleman

Kehilangan keluarga juga dialami keluarga Nunis Ummi Hani’ah yang sejak 11 Desember 2015 lalu kehilangan putri menantu, Diah Ayu Yulianingsih, beserta putrinya yang masih berusia dua tahun Ayranica Salyaputri.

Menurut penuturan Nunis kepada kabarkota.com, 15 Desember 2015 lalu, Ayu dan berpamitan kepada keluarga akan pergi ke acara ulang tahun teman Raina di kawasan Jalan Monjali Yogyakarta, bersama seorang rekannya, dengan mengendarai sepeda motor.

Namun, sejak itu Ayu dan Raina tak pernah kembali ke rumah. Bahkan, keluarga sempat menerima pesan singkat dari Ayu yang intinya menyatakan bahwa dirinya telah pergi jauh dan akan segera mendapatkan pekerjaan sebagai bekal hidup mandiri sebagaimana pesan almarhum suaminya.

Belakangan diketahui, sebelumnya, Ayu juga sempat menjadi anggota aktif Gafatar semasa masih sebagai masiswa di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Perempuan asing yang membawa Ayu dan Raina pergi diduga juga bagian dari anggota Gafatar yang sebelumnya telah ikut mempersiapkan segala sesuatunya untuk kepergian Ayu.

Baca Juga:  Gaya Hidup tanpa Uang Tunai, Siapa Takut?

Terakhir, kehilangan anggota keluarga juga dialami keluarga Akbar Aditya Wicaksono. Adit yang juga spesialis bedah Orto di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta, sejak 30 Desember 2015 kehilangan jejak istrinya, Rica Tri Handayani, dan putranya yang masih balita, Zafran Alif Wicaksono.

Berdasarkan informasi yang menyebar di berbagai media sosial, Rica dan Zaflan dibawa pergi oleh sepupunya saat berkunjung di Yogyakarta untuk menjenguk suaminya.

Dua hari sebelum Rica dan Zaflan pergi dari rumah tanpa pamit, keduanya sempat menginap tidur di tempat kakaknya dan dijemput oleh sepasang suami istri yang disebut-sebut sebagai saudara sepupunya dan hingga kini lost contact tanpa diketahui di mana keberadaannya. (Rep-03/Ed-03)