Digempur Corona, Pariswisata Yogya masih Aman (?)

Ilustrasi: Pentas kesenian dalam Pembukaan Festival Prawirotaman Yogyakarta 2020, pada 14 Maret 2020 (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Sektor pariwisata khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sedang menhadapi ujian berat. Di tengah low season, industri pariwisata kian lesu dengan hantaman isu wabah Corona Virus Desease-19 (Covid-19), sejak akhir tahun 2019 lalu.

Situasi makin memburuk ketika pemerintah mengumumkan jumlah pasien yang terpapar Covid-19 terus bertambah dan bahkan beberapa diantaranya meninggal dunia. Kepanikan menghadapi wabah tersebut juga membuat sebagian daerah mengambil langkah lockdown guna mencegah penyebaran virus agar tak meluas.

Namun, bagi para pelaku wisata di DIY masih ada bisa bernafas lega, karena Pemda belum “mengunci” daerah karena wabah Corona, sehingga wisatawan masih bebas masuk ke Kota Gudeg.

Hanya saja, Pemda DIY, melalui Gubernur dan jajarannya menerbitkan imbauan agar untuk sementara masyarakat menghindari keramaian, dan mengurangi mobilitas di luar rumah. Akibatnya, ada beberapa event besar di DIY yang terpaksa ditunda dan dibatalkan penyelenggaraannya.

Baca Juga:  Cara Aman Menyaksikan Gerhana Matahari dengan Alat Sederhana

Perhelatan Jogja Air Show yang merupakan event tahunan ke-15 terpaksa ditunda pelaksanannya. Semestinya, event tersebut digelar pada 20 – 22 Maret 2020 mendatang. Panundaan itu diklaim sebagai upaya preventif terhadap Corona. Sekaligus menindaklanjuti Instruksi Gubernur No. 2 /INSTR/2020, tentang Peningkatan Kewaspadaan terhadap Penyebaran Virus Corona.

Ketua Panitia Jogja Heboh 2020, HR Gonang Djuliastono mengaku, sebenarnya menyayangkan penundaan event tersebut, karena berefek luas terhadap dunia pariwisata di DIY.

Ketua Panitia Jogja Heboh ke XV, HR Gonang Djuliastono (Dok. Kabarkota.com)

“Efeknya nanti PHK banyak (kalau pariwisata sepi). Kalau minimal 3 bulan (isu corona) bisa dirasakan,” sesalnya.

Pihaknya juga khawatir jika akhirnya besok pemerintah membuat kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat di DIY karena kepanikan dalam mengatasi corona.

“Akhirnya, yang awalnya dari pariwisata masih 10% untuk mendongkrak destinasi wisata dalam rangka mengatasi virus corona juga, ya tak akan tecapai,” anggapnya.

Jogja Air Show merupakan satu dari sekian banyak agenda event di Yogyakarta yang dipromosikan Jogja Heboh 2020, melalui aplikasi Jogja Kita.

Baca Juga:  Pemkot Yogya Launching Rencana Aksi Daerah Penyakit Tidak Menular

Sementara Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa hingga sekarang Pemda DIY belum memberlakukan status Kejadian Luar Biasa (KLB) Corona maupun me-lockdown daerah untuk mencegah penyebaran virus corona.

“Kami belum melakukan close (penutupan) untuk pariwisata maupun kunjungan lain,” ucap Sultan di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, 15 Maret 2020.

Namun begitu, Sultan mengatakan, pihaknya akan melihat perkembangan dari Rumah Sakit terkait pasien yang dinyatakan positif Covid-19 maupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP) lainnya.

Berdasarkan data dari Posko Terpadu Pencegahan dan Penanganan Pandemi Covid-19 di DIY, jumlah PDP per 15 Maret 2020, sebanyak 17 orang sudah diperiksa. Dari angka tersebut, satu pasien positif Covid-19, dan 12 orang negatif, serta empat orang dalam proses uji lab di Litbangkes Jakarta.

Sementara Pengamat Pariwisata UGM, Bakri justru berpendapat bahwa para pelaku bisnis pariwisata semestinya mengikuri prosedur dan disiplin yang telah digariskan oleh Presiden. Mengingat, wisatawan ingin berwisata di tempat-tempat wisata yang aman. Mulai di perjalanan hingga saat berada di destinasi wisata.

Baca Juga:  JPW Desak UGM bawa Kasus Pelecehan Seksual Mahasiswa ke Ranah Hukum

Selain itu, perlu koordinasi yang baik antara Pemda DIY, Pemkot dan Pemkab. Persiapan teknis, seperti mempersiapkan para petugas kesehatan untuk mencegah Covid-19 secara pro aktif juga harus dilakukan dengan baik. Misalnya dengan meminta informasi ke travel dan hotel yang ada pergerakan wisatawannya. Hal ini penting untuk mencegah penyebaran virus.

Menyangkut pembatasan event yang akan mengakibatkan kerumunan besar, menurutnya menjadi ancaman bahaya penularan virus.

“Kita tidak tahu apakah orang-orang itu benar-benar sehat atau sudah terjangkit virus tetapi belum terdeteksi,” paparnya.

Untuk itu Bakri menilai, langkah penundaan event itu tepat. Banyak negara di Asia, dan Eropa yang telah mengambil langkah tersebut. (Rep-03)