Diminta Tutup, Wali Murid Sekolah Kesatuan Bangsa Yogya “Bersuara”

Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School Yogyakarta (suttiyati/kabarkota.com)

BANTUL (kabarkota.com) – Adanya permintaan dari Pemerintah Turki untuk mentutup sejumlah sekolah yang diduga terkait ajaran Fethullah Gulen, termasuk salah satunya Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School Yogyakarta, tak serta merta membuat wali murid di sekolah tersebut merasa cemas.

Yuni Satia Rahayu, mantan Wakil Bupati Sleman yang juga wali murid dari salah satu siswa di sana mengaku, para orang tua dan murid telah mendapatkan penjelasan dari pihak sekolah terkait permasalahan tersebut. Hanya saja, pihak sekolah maupun yayasan yang menaunginya telah menegaskan bahwa tidak ada keterkaitan sekolah Kesatuan Bangsa dengan organisasi non pemerintah oleh masyarakat Turki, PASAID, yang dikaitkan dengan Fethullah Gulen.

“Yang kami lihat sebetulnya sekolah Kesatuan Bangsa ini cukup demokratis dan liberal jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah Islam lainnya. Misalnya dari seragam, siswa dibebaskan untuk berjilbab ataupun tidak, meskipun mengenakan rok panjang,” kata Yuni saat dihubungi kabarkota.com, Jumat (29/7/2016).

Selain itu, lanjutnya, kurikulum sekolahnya juga disesuaikan dengan standar kurikulum di Indonesia, termasuk mengikuti Ujian Nasional. Hanya muatan bahasa Inggrisnya lebih banyak dibanding sekolah-sekolah umum lainnya.

Para siswa, imbuh Yuni, juga diperkenalkan dengan seni dan budaya Turki, seperti lagu-lagu, dan tari-tarian yang bisa dipelajari oleh para siswa. Bahkan menurutnya, sekolah yang berdiri pada tahun 2011 itu awalnya juga diresmikan langsung oleh Presiden Turki ketika itu, sehingga secara legitimasi sebenarnya cukup kuat.

Meski begitu, Yuni menyatakan, pihaknya akan mengikuti kebijakan dari pemerintah Indonesia. “Kalau memang harus ditutup ya kami berharap ada solusi untuk sekolah ini,” pinta kader PDIP DIY ini.

Sementara, sikap berbeda ditunjukkan oleh Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun yang putrinya juga bersekolah di sana.

Cak Nun menyebut permintaan tersebut ‘lebay’. Terlebih, realitasnya justru bertentangan dengan apa yang digambarkan.

“Saya justru menyekolahkan anak di sini karena mempelajari segala kemungkinan, seperti tingkat keamanan dari pengaruh budaya, pikirannya juga aman, potensinya dieksplorasi sehingga bisa mencapai sesuatu,” ungkap suami Novia Kolopaking ini kepada wartawan di Sekolah Kesatuan Bangsa, Sedayu, Bantul.

Kepala Sekolah Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School Yogyakarta, Ahmad Nurani mengaku, awalnya sempat kaget dan sedih mendengar permintaan dari Pemerintah Turki tersebut. Terlebih, sudah tersebar di berbagai media massa. Namun, pihaknya juga menegaskan bahwa sekolah yang ia pimpin tidak ada kaitannya dengan tuduhan peerintah turki terkait jaringan teroris Turki, FETO.

“Sekolah juga tidak ada hubungannya dengan politik dan kepemilikan yayasan kesatuan bangsa mandiri ownernya adalah pak Probo Sutedjo,” ujarnya.

Saat ini, Sekolah Kesatuan Bangsa memiliki 310 siswa di tingkat SMP dan SMA, yang tak hanya datang dari Yogyakarta tapi juga luar daerah. Sejumlah anak pejabat dan para tokoh kenamaan, seperti Amin Abdullah, Cak Nun, Yuni Satia Rahayu, dan Edy Suandi Hamid juga turut menimba ilmu di sekolah ini. (Rep-03/Ed-03)