DIY Bebas Sampah Impor?

Sampah dari Bank Sampah Terpadu “Handayani” yang akan dikirimkan ke Jawa Timur (dok. Bank Sampah Handayani)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Impor sampah, akhir-akhir ini menjadi perbincangan banyak pihak, sejak temuan gunungan sampah impor milik PT Pabrik Kertas Indonesia (Pakerin) di Mojokerto, Jawa Timur, pada bulan Juni 2019 lalu.

Aktivis Lingkungan dari Greenpeace Indonesia, Ester Meryana mengungkapkan, tak hanya di Jatim, sampah impor yang terbengkalai juga banyak ditemukan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Burangkeng, Kabipaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Menurutnya, sampah yang berupa plastik kemasan makanan dan minuman tersebut berasal dari Amerika Serikat, Australia, dan Swedia.

“Itu bercampur dengan sampah lokal. Dan itu di luar daerah TPA,” kata Mery kepada kabarkota.com, Rabu (14/8/2019).

Meski ditemukan di beberapa daerah, namun Mery menyatakan, pihaknya belum menemukan kasus impor sampah di Yogyakarta.

“Yogyakarta belum kedengaran sejauh ini. Kemungkinan, di kota-kota yang dekat pelabuhan besar, karena sampah itu dalam peti kemas yang melewati jalur laut,” anggapnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DIY, Sutarto juga menegaskan, Sampai dengan saat ini belum ada laporan terkait adanya impor sampah di DIY.

“Belum ada dan mudah-mudahan tidak ada,” tegasnya.

Bahkan, imbuh Sutarto, sampah plastik dan kertas dari DIY kebanyakan dikirim ke Jawa Timur untuk diolah kembali.

Sampah DIY Diekspor ke Jawa Timur

Sementara Direktur Bank Sampah Terpadu “Handayani” di Sleman, Sri Handayani membenarkan bahwa selama ini sampah-sampah yang telah dipilah sebagian besar dikirim ke sejumlah pabrik di Jawa Timur. Bahkan, pengiriman sudah ia lakukan sejak tahun 2013 lalu.

“Setiap tiga bulan sekali, kami mengirim sampah plastik daun dan sampah plastok keras sebanyak 10 – 12 ton,” ungkapnya.

Sri menjelaskan, sampah plastik daun itu diantaranya plastik kresek, dan plastik sablon. Sedangkan plastik keras, seperti botol plastik, dan plastik ember.

Tak hanya sampah plastik, pihaknya juga mengirim sampah kertas, berupa sag semen, kertas buram, kertas HVS, kardus, dan berbagai jenis kertas lainnya ke Krian, Sidoarjo, Jawa Timur.

Jumlah yang terkirim tersebut, menurutnya baru sekitar 40% dari total sampah yang terkumpul dari tiga kabupaten, yakni, Sleman, Bantul, dan Kulon Progo. Dari hasil penjualan beragam item sampah itu, pihaknya bisa mendapatkan Rp 60 juta – Rp 70 juta dalam sekali kirim.

Namun, dengan adanya impor sampah di Jawa Timur, Sri mengaku, cukup mempengaruhi pengiriman sampah lokal, terutama harga jualnya yang menjadi tak stabil, dan cenderung turun. Karenanya, Sri berharap agar pemerintah bisa menghentikan impor sampah di Indonesia

“Sebenarnya, sampah di Indonesia itu cukup untuk mensuplai kebutuhan pabrik-pabrik di Jawa Timur, hanya saja terkendala pada pemilahannya,” sesal Sri.

Lebih lanjut pihaknya berpendapat bahwa Pemerintah Daerah melalui dinas terkait semestinya bisa memfasilitasi kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini peduli dan aktif dalam pengelolaan sampah. Misalnya, dengan memberikan mesin pencacah sampah, sehingga sampah yang telah mereka pilah memiliki nilai jual lebih tinggi, dibandingkan dijual secara gelondongan. (Rep-02/Ed-02)