Dosen FIB UGM: Hubungan Mahasiswa dan Dosen hanya Transaksional

Ilustrasi (ugm.ac.id)

SLEMAN (kabarkota.com) – Sistem pendidikan yang diterapkan oleh hampir semua universitas di Indonesia, menyebabkan perubahan pada proses mahasiswa dalam menuntut ilmu.

Menurut Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM, Faruk HT, pendidikan teknokrat yang ada saat ini menuntut mahasiswa lebih cepat dan efisien dalam berproses. Akibatnya, hubungan yang terjalin antara mahasiswa dan lembaga pendidikan tidak lebih dari hubungan transaksional.

Loading...

“Saat ini sudah tidak ada lagi hubungan yang mesra antara mahasiswa dan dosen di lingkungan kampus. Sistem telah membuat mahasiswa dan dosen menjadi bagian dari badan usaha yang dijalankan oleh universitas,” kata Faruk HT, dalam diskusi bertajuk Menggunjingkan Kembali Cintaku Di Kampus Biru Sebagai Penanda Zaman, di UGM, Selasa (9/2/2016).

Hal tersebut, lanjut Faruk,  dapat dilihat dari adanya target lulusan dalam rentang waktu tertentu, yang saat ini diterapkan oleh universitas.

“Hal ini memang dipengaruhi oleh perubahan zaman. Teknologi yang semula ditujukan agar lebih efisiensi, kini menghadirkan konsekuensi. Sebuah masalah yang ruwet,” ujarnya.

Ditambahkan Faruk, hal yang hilang dalam proses menuntut ilmu saat ini adalah kemampuan mahasiswa untuk memahami proses dalam segala aktivitasnya. Berperilaku serba yang cepat telah membuat mahasiswa gagal dalam memperoleh nilai-nilai dari keilmuan yang lintas disiplin.

“Dulu, kemampuan mahasiswa untuk bersosialisasi tidak masuk dalam kurikulum. Sekarang semuanya sudah dikurikulumkan. Bagaimana mahasiswa bersosialisasi, berwirausaha, berdiri dan berbicara di depan,” anggapnya.

Meski demikian, kesadaran universitas terhadap konsekuensi sistem yang dipilihnya menjadi hal yang penting. 

“Seharusnya  jangan kaget kalau sekarang ada cinta satu malam. Itu adalah bagian integral dari pola efisiensi yang ada di kampus. Tapi terkadang kampus menuntut lebih dari sistem yang ada sekarang. Minta kualitas bagus dengan waktu yang pendek,” sebutnya.

Sementara itu, Syafiatudina, peneliti Kunci Cultural Studies menambahkan bahwa cerita dalam novel Cintaku Di Kampus Biru masih sangat relevan dengan situasi saat ini. Kendati sudah lebih dari 30 tahun, karya Ashadi Siregar itu menunjukan kondisi mahasiswa yang ada saat ini.

Dina melihat, kampus menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang bimbang tentang masa depannya. Sementara, efisiensi yang diterapkannya universitas menambah kerisauan mahasiswa, sehingga kehilangan orientasi.

“Serba cepat yang diinginkan oleh kampus memang telah membuat segalanya hanya transaksional. mahasiswa bahkan tidak diberi ruang untuk mempelajari sesuatu secara lintas disiplin ilmu,” kata lulusan UGM tahun 2010 itu. (Ed-03)

Kontributor: Januardi