Dua Pekan Galang Dana untuk Lombok, Mahasiswa Kumpulkan Ratusan Juta Rupiah

Aksi pentas budaya Gerakan Mahasiswa Nusantara Yogyakarta di kawasan titik nol KM Yogyakarta, Sabtu (11/8/2018) malam. (sutriyati/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Gerakan Mahasiswa Nusantara Yogyakarta menggelar aksi kemanusiaan untuk bencana Lombok melalui pentas budaya, di jantung kota Yogyakarta, Sabtu (11/8/2018). Acara digelar mulai pukul 15.00 – 23.00 WIB, di kawasan titik nol KM Yogyakarta.

Penanggung jawab aksi, Hasan Gauk menjelaskan, aksi pentas budaya ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan penggalangan dana Peduli Lombok yang telah digelar di Yogyakarta dalam dua minggu terakhir.

“Kami memilih titik nol KM karena di sini merupakan titik pusat keramaian di kota Yogyakarta,” kata Hasan saat ditemui di sela-sela aksinya.

Pihaknya menyebutkan, dalam pentas budaya kali ini juga akan ada pembacaan puisi, pentas seni adat dari berbagai daerah di Nusantara, dan pernyataan sikap Gerakan Mahasiswa Nusantara Yogyakarta terkait dengan penanganan pemerintah atas bencana tersebut.

“Kami mendesak pemerintah agar menjadikan bencana Lombok ini sebagai bencana pemerintah,” pinta mahasiswa Yogya asal Lombok ini.

Menurutnya, saat ini hampir tak ada tempat yang aman di Lombok. Kebanyakan warga masih mengungsi karena rumah-rumah mereka rusak dan gempa-gempa susulan masih terus terjadi. Sementara penanganan bencana oleh pemerintah, lanjut Hasan, terkesan lamban.

Dari hasil penggalangan dana selama dua minggu itu, kata Hasan, sudah terkumpul sekitar Rp 165 juta yang sebagian telah disalurkan dalam bentuk 50 terpal dan bahan logistik lainnya yang menjadi kebutuhan warga di sana. Setelah ini, rencana Gerakan Mahasiswa Nusantara Yogyakarta akan melanjutkan penggalangan dana untuk mewujudkan 1000 terpal bagi Lombok, melalui kerjasama dengan sejumlah penyelenggara event, seperti Prambanan Jazz Festival dan menggandeng seniman-seniman di Yogyakarta.

“Target kami bisa mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya karena dalam sehari, kebutuhan warga Lombok itu mencapai Rp 600 juta,” ungkapnya.

Selain menggelar aksi penggalangan dana Peduli Lombok, para mahasiswa yang berasal dari berbagai kampus di Yogyakarta ini juga telah mengirim empat perwakilan relawan untuk memastikan penyaluran bantuan tersebut. Dari hasil pantauan relawan di Lombok, saat ini kebutuhan mendesak para pengungsi adalah terpal, selimut, obat-obatan, susu bayi, dan berbagai makanan siap saji.

Penggalangan tandatangan dari masyarakat di kawasan titik nol km Yogyakarta, Sabtu (11/8/2018). (Sutriyati/kabarkota.com)

BNPB: Korban Terus Bertambah

Sementara, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dampak gempa bumi 7 SR yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bali, hingga 10 Agustus 2018 siang kemarin (H+5) tercatat 321 orang meninggal dunia dengan  sebaran Kabupaten Lombok Utara 273 orang, Lombok Barat 26 orang, Lombok Timur 11, Kota Mataram 7, Lombok Tengah 2, dan Kota Denpasar 2 orang. Sebanyak 321 orang meninggal tersebut semuanya sudah diverifikasi.

“Jumlah korban akibat gempa 7 SR dan gempa susulannya di wilayah Nusa Tenggara Barat terus bergerak naik. Masuknya laporan korban yang sebelumnya belum dilaporkan oleh aparat Pemda dan adanya korban yang berhasil dievakuasi menambah jumlah korban,’ kata Kepala Pusat Data Informasi dab Humas BNPB, Sutopo Purwo Santosa, di laman BNPB, Sabtu (11/8/2018)

Sedangkan jumlah pengungsi sebanyak 270.168 jiwa yang tersebar di ribuan titik. Jumlah pengungsi juga diperkirakan bertambah mengingat belum semua terdata dengan baik. Di beberapa tempat dilaporkan masih terdapat pengungsi yang belum menerima bantuan terutama di Kecamatan Gangga, Kayangan, dan Pemenang yang berada di bukit-bukit dan desa terpencil.

Namun menurut Sutopo, untuk mengatasi itu, sejak 9/8/2018 hingga kini, distribusi bantuan menggunakan sejumlah helikopter dari BNPB dan Basarnas terus dilakukan. Di samping bantuan dari darat yang juga terus disalurkan, dengan melibatkan relawan dari berbagai komunitas.

Untuk kerusakan, Data sementara BNPB menunjukkan kerusakan rumah mencapai 67.875 unit rumah. Dari hasil analisis citra satelit terlihat kerusakan bangunan masif terjadi di Kabupaten Lombok Utara. Hampir 75 persen permukiman hancur dan rusak. Ini disebabkan paling dekat dengan pusat gempa dan menerima guncangan gempa dengan intensitas VII MMI. Rumah dengan konstruksi yang kurang memenuhi standar rumah tahan gempa tidak akan mampu menahan guncangan keras sehingga roboh.

Kerusakan fisik meliputi 67.857 unit rumah rusak, 468 sekolah rusak, 6 jembatan rusak, 3 rumah sakit rusak, 10 puskesmas rusak, 15 masjid rusak, 50 unit mushola rusak, dan 20 unit perkantoran rusak. Angka ini juga sementara.

Kerugian dan kerusakan akibat gempa 6,4 SR dan 7 SR di NTB dan Bali diperkirakan lebih dari 2 trilyun rupiah. Kerugian dan kerusakan ini meliputi sektor permukiman, infrastruktur, ekonomi produktif, sosial budaya dan lintas sektor. BNPB masih melakukan hitung cepat untuk menghitung kerugian ekonomi.

Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, Kementerian ESDM dan relawan masih menyisir dan melakukan evakuasi. Evakuasi korban terus dilakukan. Longsor terjadi saat gempa 7 SR mengguncang Dusun Dompu Indah, Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara sehingga tebing longsor. Diduga menimbun 4 orang. Seorang istri melaporkan kehilangan suami,  anaknya dan 1 orang tetangganya. Tim SAR masih melakukan evakuasi. Namun medan sangat berat dan luas. Tanah remah dan mudah longsor sehingga membahayakan petugas. (sutriyati)