Feminisme Picu Berkembangnya LGBT?

Ilustrasi (lensaindonesia.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Lesbi Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) merupakan kelompok minoritas yang akhir-akhir ini menjadi perbicangan publik di tanah air, pasca pernyataan Menristekdikti yang melarang mereka masuk ke kampus-kampus, dengan dalih tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan.

Guru Besar Fakultas Psikologi UGM, Muhammad Nurohman Hadjam  berpendapat, alasan tersebut bisa diterima  karena dianggap akan menjadi gangguan. 

Meski begitu, Nurohman berharap agar semua pihak bisa memahami bahwa kelompok LGBT ini memang ada dan semestinya tetap dihargai, selama tidak melakukan tindakan-tindakan yang ekstrim, termasuk di lingkungan kampus.

Baca Juga:  Seyegan Hujan Es

Mantan Dekan Fakultas Psikologi UGM ini menjelaskan, berdasarka Diagnostic Statistical Manual for Mental Disolders (DSM) III-R, LGBT termasuk dalam klasifikasi gangguan neurologis, yakni terjadi ketidaknormalan dalam otaknya sehingga lebih cenderung menjadi penyuka sesama jenis.

DSM merupakan klasifikasi gangguan jiwa baru yang dibuat oleh American Psychiatric Association (APA).

Selain gangguan neurologis, menurutnya, faktor eksternal seperti pergaulan, gaya hidup, dan fashion juga mempengaruhi keberadaan kelompok ini. “Gerakan-gerakan feminis yang berkembang terlalu pesat juga mempengaruhi LGBT,” kata Nurohman kepada kabarkota.com, Selasa (2/2/2016).

Baca Juga:  Tips Konsumen Cerdas, Ingat KIK

Lebih lanjut ia menambahkan, untuk bisa menyembuhkan gangguan tersebut, maka tidak hanya psikolog yang bergerak, tetapi juga perlu penanganan dari tim medis sebab berkaitan juga dengan masalah hormonal. (Rep-03/Ed-03)