Film Jilbab Traveler LSIK: Romantika Cinta Petualang dalam Balutan Syar’i

Ilustrasi (sutriyati/kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Libur lebaran menjadi momen yang tepat untuk menghabiskan waktu dengan berbagai hal yang menyenangkan bersama keluarga dan orang-orang tercinta. Bagi para pecinta film tanah air, pada lebaran kali ini bisa menyaksikan Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (LSIK), yang rencananya mulai rilis di bioskop-bioskop, Selasa (5/7/2016) besok.

Film dengan genre drama romantis yang mengambil setting di Indonesia dan Korea ini pada intinya menceritakan romantika cinta seorang jilbaber, Rania Samudra yang juga petualang selama menjelajah Korea.

Baca Juga:  Teliti Helm sebelum Dibeli

Penulis Novel Jilbab Traveler: LSIK, Asma Nadia mengungkapkan, 30 – 40 persen dari cerita di film yang dibintangi Morgan Oey dan Bunga Citra Lestari tersebut merupakan pengalaman pribadinya.

“Saya dari keluarga miskin dan ketika kecil sakit-sakitan (gegar otak) tapi saya berada di lingkungan keluarga yang positif,” kata Asma kepada wartawan, di Sleman, Minggu (3/7/2016).

Melalui film ini, Asma ingin berpesan agar masyarakat terutama para muslimah tetap semangat dalam meraih mimpi, meskipun di tengah keterbatasan.

Baca Juga:  Celosia, Si Cantik Warna-Warni yang sedang Hits di Yogyakarta

“Harapanya, lewat film ini, semua terketuk untuk memberi izin kepada keluarganya yang ingin berjilbab. Jilbab hanya menutupi keala kita, tapi tidak otak kita,” tegas Asma yang juga penulis Novel Assalamualaikum Beijing ini.

Sebab, Asma mengaku prihatin dengan adanya pelarangan penggunaan jilbab terhadap 200-an pilot perempuan di salah satu maskapai penerbangan.

Menurutnya, berjilbab tidak berarti membatasi seorang perempuan muslim untuk melakukan petualangan, dengan berkiblat pada sosok petualang Islam, seperti Ibnu Batutah.

Baca Juga:  Ini Kronologi Lengkap Pembubaran Acara Hari Kebebasan Pers Internasional di AJI Yogyakarta

“Bagi saya, film adalah media perjuangan,” lanjutnya.

Guntur Soeharjanto, Sutradara dari Film tersebut menambahkan ini merupakan satu-satunya film religi lebaran yang tanpa sentuhan sama sekali.

Dijelaskan Guntur, film ini juga mengisahkan tentang hubungan anak terhadap orang tuanya. (Rep-03/Ed-03)