Film Sexy Killers, Catatan Kritis Sektor Energi di Indonesia

Nobar dan Diskusi Fim “Ekspedisi Indonesia Biru: Sexy Killers di UNY, Jumat (5/4/2019) malam. (dok. kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Di balik terangnya lampu-lampu dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), ada sederet persoalan sosial, dan ancaman kerusakan ekosistem alam yang luar biasa.

Hal tersebut menjadi gambaran sekilas tentang film dokumenter “Sexy Killers” produksi Watchdoc yang diputar perdana di 21 titik, termasuk Yogyakarta, pada Jumat (5/4/2019) malam.

Roy Murtadlo dari Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) menilai, film berdurasi 90 menit tersebut menjadi penutup ekspedisi Indonesia biru yang sangat menarik, karena merangkum semua krisis sosial ekologi di banyak titik di Indonesia. Sekaligus banyak aspek, khususnya di sektor SDA yang jarang menjadi perbincangan publik.

Pihaknya mencontohkan, banyaknya masyarakat nelayan dan petani garam yang digusur untuk pembangunan PLTU di Cirebon, namun ironisnya, kebanyakan mereka tak tahu dampak apa yang mereka peroleh dari pembangunan PLTU itu.

“Makanya kalau melihat film ini, saya speechless antara marah, muak dan ingin menangis. Betul-betul menangis karena saya bertemu langsung dengan mereka. Anda tahu bagaimana rasa pedihnya ibu yang yang ditinggal anaknya meninggal di galian tambang? Saya tahu betul, ibu-ibu itu curhat dan menangis, seperti tak ada habisnya,” ungkap Roy yang turut terlibat dalam proyek pembuatan film tersebut.

Sementara Tommy Apriando dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta berharap, film Sexy Killers menjadi gerakan yang dimulai dari Yogyakarta dan 21 lokasi yang secara serentak melakukan pemutaran film perdana.

“Pesannya adalah bagaimana agar sebisa mungkin menghemat energi yang kita pakai hari ini,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Tommy, sudah saatnya bagi negara untuk beralih dari energi batubara yang kotor ke energi terbarukan yang lebih bersih, ramah lingkungan, tak mengganggu kesehatan, serta menghilangkan sumber-sumber air warga, dan menimbulkan polusi udara. (Rep-01)