Gagal Bertemu Menag, Senat UIN Yogya Tetap Tolak PMA 68

Ilustrasi: aksi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (8/4/2016). (dok. istimewa)

YOGJAKARTA (kabarkota.com)- Kunjungan Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifudin ke Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta yang rencananya akan dilaksanakan Selasa (8/3/2016) kemarin gagal, karena adanya unjuk rasa dari sejumlah mahasiswa di depan gedung rektorat.

Padahal rencananya, kunjungan tersebut dalam rangka silaturrahim dengan Senat Universitas, terkait Peraturan Menteri Agama (PMA) 68 Tahun 2015 tentang pemilihan rektor.

Sekretaris Senat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Muhammad Chirzin mengatakan, karena adanya aktivitas unjuk rasa tersebut, Pengganti Sementara (Pgs) Rektor, Machasin menghubungi dan meminta pertemuan Senat dengan Menteri Agama (Menag) dialihkan ke Hotel UIN. Machasin juga meminta ketua dan jajaran Senat yang sebelumnya telah menunggu di rektorat untuk segera menuju lokasi. Namun Senat enggan menemui Menag di Hotel tersebut.

Baca Juga:  PSKP UGM: Eks Pengikut Gafatar Harus Diberdayakan

“Kami ingin Menag masuk UIN. Aksi unjuk rasa juga tidak ada hubungannya dengan Menag,” kata Muhammad kepada kabarkota.com.

Terlebih menurutnya, senat sudah menyiapkan naskah “Dinamika Pemilihan Rektor UIN 2015/2016” untuk dibacakan dan diberikan kepada Menag, sebagai bentuk protes terhadap PMA 68 tahun 2015.

Kendati gagal bertemu Menag, Muhammad menegaskan, pimpinan Senat dan jajarannya tetap akan menolak pemberlakuan PMA 68. Senat meminta ada perubahan, terutama pada pasal 6, tentang pembentukan komisi seleksi bakal calon rektor.

Baca Juga:  Presiden Jokowi Bakal Ganti KaBIN, Ini Respon Sutiyoso

“PMA 68 melanggar UU No 12 tahun 2012 Perguruan Tinggi, tentang otonomi kampus. Komisi seleksi telah melucuti hak senat untuk memilih calon rektor,” ujarnya.

Muhammad juga menepis alasan Kemenag yang menjadi landasan dikeluarkannya PMA 68, yaitu tentang tarik ulur kepentingan dan hutang jasa rektor terpilih kepada Senat.

“Ide Menag (tentang PMA 68) juga sarat kepentingan. Selama ini tidak pernah rektorat dikuasai oleh satu kubu. Selalu ada sharing antara Muhammadiyah dengan NU,” tegasnya.

Baca Juga:  Kemenristek Dikti Harapkan Pengembangan riset GMT

Untuk itu, Senat dalam waktu dekat akan menentukan sikap terkait panitia seleksi bakal calon yang saat ini dipimpin oleh Ahmad Baheij. Komisi seleksi saat ini juga sudah menyaring tujuh calon rektor untuk bersaing menjabat rektor UIN periode 2015-2020.

Ketujuh calon rektor tersebut adalah Yudian K Wahyudi, Machasin, Alwan Khoiri, Khoiruddin, Maragustam, Makhrus, dan Noorhaidi Hasan. (Ed-03)

Kontributor: Januardi