Gara-gara ini, GKR Hemas Dibully

GKR Hemas (tengah) bersama sejumlah elemen keagamaan DIY, usai menggelar RDP tentang Intoleransi di Kompleks Keraton Kilen Yogyakarta, Jumat (8/4/2016). (Sutriyati/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Permaisuri Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas mengaku dibully rekan-rekannya, para aktifis perempuan, terkait kasus pembubaran acara Lady Fast 2016 di Yogyakarta, 2 April 2016 lalu.

“Kemarin itu saya dibully teman-teman, Yogya itu sudah tidak aman. Cucu saya saja sampai SMS saya dari London karena itu (berita) keluar,” ungkap GKR Hemas saat ditemui wartawan usai menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) tentang Intoleransi, di kompleks Keraton Kilen Yogyakarta, Jumat (7/4/2016)

Baca Juga:  UII Yogya ajukan Judicial Review UU KPK

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari DIY ini menyesalkan tindakan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum bersama sejumlah ormas terhadap kegiatan yang digelar oleh para aktifis perempuan di tingkat nasional tersebut.

“Mereka itu kan orang-orang yang tengah membahas situasi dari masalah kemiskinan, yang menyangkut masalah perempuan. Jadi itu bukan terus yang gimana,” ujarnya.

Lebih lanjut GKR Hemas menilai, tindakan yang diambil aparat dengan memanggil para korban bukan pelakunya merupakan hal yang tidak tepat.

Baca Juga:  Ini Alasan Pemerintah Tak Campuri Kasus 11 ABK Indonesia di Inggris

“Mereka (aktifis perempuan) bilang Yogya sekarang tidak seperti Yogya yang dulu, penuh kecurigaan. Apa kita mau dibilang seperti itu?” Tanya istri Gubernur DIY ini.

Pembubaran Lady Fast 2016 yang berlangsung di Survive Garage, Bugisan, Bantul itu dilakukan karena para peserta dituding sebagai komunis. Padahal, Pramilla Deva selaku penanggung jawab acara, seperti dilansir laman BBC Indonesia, baru-baru ini mengaku, acara yang digelar mencakup diskusi mengenai isu-isu perempuan, lokakarya pemutaran film, dan hiburan musik.

Baca Juga:  Sidang Cat Lover Yogya terjerat UU ITE: Ini alasan Dokter Hewan Naroopet hanya Kantongi STVR di Tahun 2015

“Intinya kami membahas mengenai beragam masalah yang dialami perempuan, seperti kiat menangani kekerasan seksual. Kami sama sekali tidak mengusung ideologi atau agama tertentu,” ucapnya. (Rep-03/Ed-03)