Gelombang Tinggi, Kenali Pantainya, Cegah Bahayanya

Ilustrasi (sutriyati/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Gelombang tinggi yang terjadi di sepanjang pesisir selatan DIY sejak beberapa hari terakhir hingga kini masih menjadi ancaman, bagi warga maupun wisatawan yang berada di sekitar pantai.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada 26-28 Juli 2018 masih mengeluarkan peringatan dini kecepatan angin dan gelombang tinggi di wilayah DIY mencapai 2.5 – 5 meter.

“Penyebab tingginya gelombang di selatan DIY adalah munculnya daerah tinggi di Australia (1024 Hpa) , kondisi ini diperkuat dengan munculnya daerah tekanan udara rendah di utara Equator . Akibat perbedaan tekanan udara di selatan dan utara equator inilah yang memicu meningkatnya kecepatan angin di Samudera Hindia ( selatan Jawa) berkisar antara 15-20 knot (27-36 km/jam). Kecepatan angin itu memicu tinggi gelombang menjadi lebih tinggi,” jelas Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG DIY, Djoko Budiono, kepada kabarkota.com, baru-baru ini.

Sementara data kerusakan akibat gelombang pasang yang masuk ke Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (TRC BPBD) DIY hingga 25 Juli 2018
tercatat di 23 pantai wilayah Gunung Kidul, Kulon Progo, dan Bantul. Sapuan gelombang setinggi 2 – 6 meter tersebut telah merusakkan sedikitnya 336 gazebo, 120 warung, 42 kapal dan perahu, 17 bangunan posko dan mushola, serta 67 kerusakan lainnya.

 

Meski tak menimbulkan korban jiwa, namun fenomena alam tersebut cukup merugikan warga pesisir pantai. Pasalnya, dari hasil Rapid Assessment Dampak Gelombang Tinggi di Pesisir DIY yang dirilis UGM, pada 24 Juli 2018, angka kerugian akibat gelombang tinggi kali ini sedikitnya telah mencapai Rp 2 Milyar.

Mengingat besarnya kerugian fisik dan fasilitas itu, maka mitigasi bencana baik jangka pendek maupun jangka panjang perlu untuk dilakukan bersama, khususnya oleh masyarakat. Mengenali jenis-jenis pantai dan karakternya adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah bahaya yang ditimbulkan akibat air laut pasang.

Dekan Fakultas Geografi UGM, Muh Aris Marfai memaparkan, dari hasil pengamatan, ada 6 jenis pesisir di DIY. Pertama, pesisir lurus berpasir, yang bisa ditemui, antara lain di Pantai Goa Cemara dan Pantai Baru di Bantul, serta Pantai Trisik di Kulon Progo. Saat air laut pasang, jangkauan gelombang di pantai-pantai tersebut relatif jauh, genangan airnya dalam, dan kerusakan fisik dan fasilitas disekitarnya kategori mayor.

Selanjutnya pantai berlaguna dan bermangrove. Termasuk dalam jenis pesisir ini adalah Pantai Glagah dan Pantai Pasir Mendit atau Kadilangu, yang keduanya berada di ujung barat Kulon Progo. Tipologinya, jarak jangkauan gelombang, kedalaman genangan air, dan kerusakan fasilitas serta fisiknya sedang.

Pantai Baron di Gunung Kidul termasuk salah satu jenis pantai berteluk di DIY. Di pantai ini, jarak jangkauan ombak lautnya dekat, kedalaman genangan air dan kerusakan fisik maupun fasilitasnya sedang.

Sedangkan jenis pantai bertebing semisal Pantai Sundak, Pantai Ngandong, dan Pantai Sepanjang di Gunung Kidul, memiliki karakter jarak jangkauan gelombang dekat, kedalaman genangan air dan kerusakan yang sedang. Jenis pantai berplatform seperti Pantai Samondeng di Gunung Kidul, umumnya jarak jangkauan gelombang juga dekat, namun kedalaman genangannya dangkal, dan kerusakan yang ditimbulkan cenderung minor.

Setelah mengenali jenis-jenis pantainya, langkah selanjutnya adalah menghindari bahayanya melalui mitigasi jangka pendek. Hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat adalah dengan memantau peringatan aktivitas gelombang tinggi dari BMKG di masing-masing wilayah. Jika memang ada peringatan dini, maka sebaiknya aktivitas melaut ataupun berwisaya di pantai ditunda untuk sementara waktu.

Tapi jika sudah terlanjur berada di pantai, maka kewaspadaan perlu ditingkatkan, dengan memperhatikan arah jalur evakuasi, mengikuti arahan dan aturan yang berlaku di masing-masing pantai, serta tak sungkan melapor kepada petugas saat menghadapi hal-hal yang membahayakan. (sutriyati)