Gempa Besar Terjadi Lagi, Situasi di Lombok Mencekam

Titik merah merupakan pusat gempa di Lombok yang terjadi pada Minggu (19/8/2018), pukul 21.56 WIB, yang dirilis BMKG. (dok. BMKG)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Gempa bumi dengan magnitude cukup besar kembali mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa kali, pada Minggu (19/8/2018) sejak siang hingga malam hari.

Selain warga Lombok, para relawan dari berbagai daerah, termasuk dari DIY masih berada di wilayah yang tengah dilanda bencana alam tersebut. Bahkan, sejumlah kepala daerah se-DIY, termasuk Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X juga dikabarkan tengah berada di pulau Lombok, saat gempa dengan parameter sementara 7.0 Scala Richter (SR) yang terjadi pada pukul 21.56 WIB.

Loading...

Keberadaan para pejabat dari DIY terungkap dari postingan Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi melalui akun instagram miliknya, beberapa saat setelah gempa terjadi.

“Mengalami sensasi gempa skala 7.0 di dalam Hotel Mataram Lombok NTB, bersama rombongan kepala daerah se-DIY, pak Harsono (Bupati Bantul), bu Sri Muslimatun (wabup Sleman), pak Tejo (Wabup Kulon Progo), pak Immawan (wabup Gunung Kidul), serta pak Gubernur DIY, Sri Sultan HB X. Lumayan…” tulisnya di akun instagram @heroe_poerwadi, Minggu (19/8/2018) malam.

Hanya saja, saat kabarkota.com mencoba mengkonfirmasikan postingan tersebut kepada wakil walikota Yogyakarta, hingga berita ini diturunkan belum ada respon.

Relawan Peduli Gempa Lombok dari Yogya: bukit-bukit longsor

Tanah di perbukitan longsor bersamaan dengan gempa yang terjadi di Lombok Timur, Minggu (19/8/2018) siang. (Dok. Relawan Goweser Yogya Peduli Lombok)

Sementara, salah satu relawan Peduli Gempa Lombok dari Komunitas goweser di Yogyakarta, Agus Sumpeno Yulianto menyampaikan bahwa dirinya bersama tujuh anggota tim lainnya telah berada di Lombok Timur, sejak 14 Agustus 2018 lalu? sehingga merasakan benar situasi di wilayah tersebut.

Kepada kabarkota.com, Agus mengatakan, saat gempa bumi dengan magnitude 7.0 SR yang terjadi tadi malam, pihaknya bersama rombongan tim, dan warga setempat berada di sekitar titik pusat gempa, tepatnya di Lendang Luar, Kelurahan Sembalun, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi NTB.

“Kami mohon doanya dengan sungguh-sungguh karena infonya kami berada di titik gempa. Semoga tidak terjadi apa-apa pada kami,” pintanya.

Akibat gempa kali ini, warga kembali mengalami kepanikan dan berhamburan keluar. Meskipun sebagian besar masih berada di tenda-tenda pengungsian, sejak gempa besar beberapa waktu lalu. Mereka juga sempat mendengar suara gemuruh yang diperkirakan dari bebatuan tebing perbukitan yang longsor.

“Kami tidak bisa melihat dan merabanya, karena situasi di sini gelap. Aliran listrik hanya hidup sekitar dua jam tadi,” jelasnya.

Agus juga mengaku, pada minggu siang, sesaat sebelum gempa berkekuatan 6.5 SR mengguncang, pihaknya tengah melakukan renovasi rumah salah satu warga dan berada di atas atap.

“Kami baru saja merombak rumah di atas genteng, tiba2 ada gempa, lalu kami turun. Selang lima menit kemudian, gempa 6.5 SR kembali terjadi,” ungkapnya lagi.

Agus juga menambagkan bahwa pada saat terjadi gempa siang itu, tebing-tebing di perbukitan dekat lokasi mereka berada juga longsor hingga menambah panik warga.

“Ada beberapa bangunan yang runtuh juga,” ucap Agus.

Situasi saat gempa mengguncang wilayah Lombok Timur, Minggu (19/8/2018). (Dok. Relawan Goweser Yogya Peduli Lombok)

Meski situasi di Lombok mencekam akibat gempa-gempa susulan yang terus berlangsung, namun Koordinator Relawan Peduli Gempa Lombok, Rahmat Raharjo yang berada di Yogyakarta menegaskan, para relawan di Lombok yang kini bertambah tiga personel masih akan tetap bertahan di sana, sesuai dengan rencana awal.

“Bahkan pembina Relawan Condongcatur, bapak Reno candra sangaji yamg juga kepala desa condongcatur, inshaallah tanggal 24 agustus mendatang akan ke Lombok, menyusul mereka, dan memberi semangat pada para relawan di sana,” kata Rahmat.

Nantinya, lanjut Rahmat, para relawan tersebut juga akan dilibatkan dalam proses recovery pasca bencana, dengan pergantian personel.tiap dua minggu sekali.

Ditemui terpisah, pendiri Gowes Bareng (Gobar), Heru Rasya yang juga sesepuh dari para sesepuh goweser di Yogyakarta mengatakan, para goweser telah melakukan penggalangan dana dari para anggota berbagai komunitas sepeda, untuk disumbangkan ke Lombok, dalam bentuk uang tunai maupun berbagai logistik yang diantar langsung oleh perwakilan dari goweser ke lokasi bencana.

Gempa tak Berpotensi Tsunami, Masyarakat Diimbau tetap Tenang

Dok. BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis, gempa yang terjadi pada pukul 21.56 WIB ternyata Magnitudenya 6.9 SR, dengan kedalaman 10 km dan berpusat di 30 km timur laut Lombok Timur kali ini tidak berpotensi tsunami.

“Gempa ini masih merupakan rangkaian gempa susulan dari gempa utama tanggal 5 Agustus lalu,” papar Kepala BMKG DIY, Nyoman Sukanta, Senin (20/8/2018).

Untuk itu BMKG mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan waspada karena gempa susulan masih akan terjadi. Masyarakat juga diminta untuk menghindari bangunan rentan roboh karena guncangan gempa.

“Jangan mudah terpancing dengan isu yang menyesatkan. Konfirmasi kepada kantor BMKG terdekat, jika ada isu-isu tentang gempa,” harap Nyoman.

Situasi saat gempa mengguncang Lombok Timur, Minggu (19/8/2018) siang. (Dok. Relawan Goweser Yogya Peduli Gempa Lombok)

Sedangkan Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, guncangan gempa kali ini dirasakan keras Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa Besar, Lombok Barat dan Kota Mataram selama 5-10 detik. Gempa dirasakan sedang di Bali seperti di Jembrana, Kota Denpasar, Karangasem, Badung, Gianyar, Bangli, Kulungkung dan Buleleng selama 5-10 detik. Gempa juga dirasakan ringan di Jawa Timur bagian timur dan Makassar.

“Kami belum dapat memastikan dampak gempa karena listrik padam dan komunikasi mati di Lombok Timur,” ucap Sutopo melalui laman BNPB, Senin (20/8/2018).

Di Kecamatan Sembalun Lombok Timur, sebut Sutopo, warga yang sedang dirawat di Pustu Sembalun dievakuasi menuju Rumah sakit Lapangan Yonkes di Lapangan Sembalun. Termasuk, masyarakat juga diarahkan mengungsi di lapangan Sembalun, karena beberapa rumah dan bangunan roboh.

Kepala BNPB, Willem Rampangilei telah berkoodinasi dengan Panglima TNI terkait pengiriman bantuan logistik dan peralatan untuk gempa susulan kali ini. Pesawat-pesawat Hercules TNI di Lanud Halim Perdanakusuma di Jakarta  dan Lanud Abdurahman Saleh di Malang disiagakan untuk mengangkut bantuan. Demikian juga kapal KRI jika diperlukan. Menteri BUMN akan lebih meningkatkan operasi pasar beras dan kebutuhan-kebutuhan dasar di Lombok. (sutriyati)

Berikut situasi menegangkan saat terjadi gempa 6.5 SR di Lombok Timur, yang terekam relawan goweser Yogyakarta Peduli Lombok, Minggu (19/8/2018) siang.